The Soda Pop
HomeBlog Okta AdityaAbout me
Jumlah pengunjung total blog :290265
United StatesUnited States
Free mobile page creator114Unknown
My Acount Facebook

My Acount Twitter

Follow @AdityaEmail_


International News Latest


Google News

Source: Google news


Top News CNN

Brexit: 'Horrified' firms warn time is running out -> (2018-12-19 00:07)

National Action trial: Members of neo-Nazi group jailed -> (2018-12-18 23:48)

Donald Trump's troubled charity foundation to shut down -> (2018-12-18 21:46)

Banning sweets at supermarket checkouts 'works' -> (2018-12-18 19:06)

Simon Thomas: Coping with grief at Christmas -> (2018-12-18 12:54)

Source: CNN


BLOG NYA OKTA ADITYA

Teraktual, Menarik, Bermanfaat, dan Terinspirasi dalam mengabarkan segala opini, ide, gagasan maupun berbagai macam pengalaman dari berbagai kalangan. Blog yang terpercaya rekomendasi Google.


Semula saya membuat blog ini dari awalnya hanya ingin menulis tentang pengalaman, pandangan, opini dan gagasan saya pribadi.

Lantas, setelah saya sering membaca berbagai opini dan gagasan para penulis lainya yang sangat inspiratif dan sangat bermanfaat, saya tergerak untuk mengeshare di blog saya, bertujuan agar sebagai catatan berguna suatu saat untuk saya sendiri dan semoga bermanfaat juga bagi siapa yang berkunjung di blog saya ini.

Semua konten rata-rata berasal dari situs http://kompasiana.com konten tulisan yang asli dan unik dari para member kompasiana, Kompasiana menyediakan sebuah wadah yang memungkin setiap pengguna Internet membuat konten berita, opini dan fiksi untuk dinikmati oleh para pengguna Internet lainnya.

Walhasil, sekitar 800 konten dalam bentuk tulisan dan foto mengalir di Kompasiana. Konten-konten yang dibuat warga juga cenderung mengikuti arus positif dan bermanfaat karena Kompasiana akan memoderasi konten-konten negatif selama 24 jam.

Nah, dari berbagai tulisan itulah saya menyaring beberapa tulisan yang saya kira wajib untuk saya simpan sendiri, sudah barang tentu tulisan yang aktual, inspiratif bermanfaat dan menarik.

Sebagai sebuah media, Kompasiana cukup unik. Karena dari sisi konten, media berslogan “sharing connecting” ini mengelola konten-konten di dalamnya layaknya sebuah media berita yang selama ini hanya diisi oleh wartawan dan editor media massa. Tapi dari sisi User Interface maupun User Experience, Kompasiana merupakan media sosial yang menyajikan dua fitur utama sekaligus, yaitu fitur blog (social blog) dan fitur pertemanan (social networking).

Itulah yang membuat Kompasiana melejit cepat menjadi website besar hanya dalam kurun waktu empat tahun. Bila sekarang Anda mengecek posisi Kompasiana di pemeringkat website Alexa.com, Anda akan melihat peringkatnya berada di posisi 30 (pernah berada di posisi 29, kadang turun ke posisi 32) di antara website-website yang diakses di Indonesia.

Di kategori website media sosial, Kompasiana berada di posisi ke-8 setelah Facebook (1), Blogspot.com (4), YouTube (5), Wordpress (7), Kaskus (9), Blogger.com (11) dan Twitter (12). Sedangkan di kategori website berita dan informasi, media warga ini berada di posisi ke-4 setelah Detik.com (8), Kompas.com (12) dan Viva.co.id (19). Posisi ini cukup kuat, karena di bawah Kompasiana masih ada Okezone.com (33), Kapanlagi.com (35), Tribunnews.com (40), Tempo.co (47), dan media massa besar lainnya.

Ke depan, dengan semakin besarnya euporia masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet dan media sosial, serta semakin besarnya pengakses internet lewat ponsel, Kompasiana mendapat tantangan besar untuk terus meningkatkan kinerjanya. Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan menghadirkan enjin yang lebih stabil, lebih andal, lebih nyaman, lebih terbuka dan lebih sosial. Juga harus dihadapi dengan kesiapan insfrastruktur yang lebih besar dan kuat. Dan itulah yang sedang berlangsung di dapur Kompasiana jdi awal 2013.



Bagi yang suka ide gagasan, alasan, ulasan dan opini yang dekstruktif, dijamin tidak akan kecewa membaca tulisan kompasianer yang saya share di balik konten saya dibawah ini,

Selamat membaca, Semoga bermanfaat walau tidak sependapat,
Konten dan artikel selengkapnya klik tautan ini.,
Artikel dan Konten Blog :

Apa Itu Alay

Semua orang pasti sudah tahu apa istilah “Alay”. Alay, kependekan dari anak lebay atau anak layangan ini merupakan stereotipe yang menggambarkan gaya hidup yang norak atau kampungan. Di samping itu juga, alay kerap kali bertindak berlebihan dan selalu berusaha untuk menarik perhatian banyak orang.

<3

Lalu? Bukan, saya bukan ingin menjelek-jelekkan alay, justru saya ingin protes.

Saya pernah menjadi seorang alay, dan saya yakin hampir semua orang yang seumuran, adik kelas, kakak kelas saya pasti pernah menjadi alay. Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih menginjak bangku SMP, virus alay merebak kemana-mana.  Faktanya waktu itu, kalau tulisan sms gak alay berarti gak gaul. Benar, kan?

Tentu saja sekarang alay sudah tidak zaman lagi meskipun masih saja ada orang yang menjadi alay abadi. Oke, itu hak mereka. Dan yang saya tak habis fikir adalah, mengapa remaja-remaja sekarang menjadi seperti menjelek-jelekkan alay padahal mereka sendiri seorang mantan alay! Hell-o, ngaca dulu sebelum ngatain orang!

Untuk contoh, sekitar dua minggu yang lalu, saya pernah update status di akun Facebook saya seperti ini, “cakit peyut :(”. Saya bukan berniat alay, saya hanya iseng-iseng saja supaya kelihatan manja (padahal sebenarnya gak kelihatan manja). Lalu beberapa saat kemudian, di beranda saya menemukan status seorang teman seperti ini,
“Sekarang udah gak zaman kali update status alay kayak gini, ‘Aduh peyutnya cakit.’ atau ngirim ke dinding orang kayak gini, ‘Lg apha nieh?’. Ih, kampungan banget! Untungnya udah di-remove!”

Ya ampun, mengapa sampai segitunya mikirin status orang?
Status itu memang sepertinya bukan untuk saya, karena saya lihat kembali, saya masih berteman dengan orang tersebut. Tetapi tetap saja saya merasa tersindir. Saya yakin orang itu juga mantan alay, bahkan bisa lebih parah.

Contoh lagi, saya pernah membaca salah satu tweet dari Media Heureuy Bandung. Tweet itu cukup lucu menurut saya. Namun tetap saja, saya merasa ingin protes. Kira-kira bunyi tweetnya begini (ditranslate ke Bahasa Indonesia) “Kalau laper, ya makan, bukannya ngetweet. Emangnya di twitter ada tukang nasi uduk! Meni alay!” Lalu ada satu lagi, hampir sama. “Kalau ngantuk, ya tidur, bukannya update status. Situ kira si Facebook jualan spring bed!”

Baiklah, saya jadi ingin bahas, nih.
Biasanya seseorang kalau update status begitu pasti dalam keadaan tidak bisa melakukan apa yang dia curhatkan di status atau tweet tersebut. Ngerti, gak? Maksudnya begini. Jika seseorang update status lapar atau ngantuk, pasti orang itu berada dalam keadaan tidak bisa makan atau tidur. Ini memang bukan hasil survei, tapi ini termasuk pengalaman saya, kok. Saya juga sering update status seperti itu. Lapar, ngantuk, atau apalah. Tetapi nyatanya, saya tidak bisa makan atau tidur karena saya sedang mengikuti pelajaran, misalnya, atau saya sekarang sedang Prakerin, saya seringkali merasa lapar dan tentu saja saya tidak bisa makan sebelum waktunya, kan? Apalagi tidur. Jadi, ya kesimpulannya begitulah. Bukannya orang itu alay atau bagaimana! Baiklah, yang tadi saya sedang mengikuti pelajaran lalu update status bagi yang masih sekolah jangan ditiru, ya! Hehe.

Teman saya juga pernah update status seperti ini, “Kalo kehujanan neduh dong, bukannya update status haha :D” Oke, yang ini memang benar.

Lalu untuk contoh yang lainnya, baru saja saya dan sahabat saya ngubek-ngubek profil Facebook orang. Sahabat saya membuka album foto, dan jadilah kami menemukan banyak sekali foto yang -masih- alay. Sahabat saya nyeletuk, “Ih, ini fotonya masih alay!” Saya hanya tertawa.
Saya juga tidak bisa memungkiri, saya sering tertawa jika menemukan foto alay teman Facebook saya. Pasti tahu kan, pose foto cewek yang menyimpan telunjuknya di bibir? Nah, itu yang paling sukses mengocok isi perut saya. Saya tidak munafik, saya belum pernah berpose foto seperti itu sekalipun waktu saya masih alay. Jadilah saya ngetawain orang. :D

Kembali lagi ke alay. Menurut saya, alay punya rasa kebersamaan yang baik. Mereka punya komunitas sendiri, lho. Dan saya juga yakin solidaritas dari komunitas itu tinggi-tinggi. Alay itu unik, mereka bisa kefikiran gitu nulis sms sampai mengkombinasikan huruf dan angka atau kalau tidak mereka menulis huruf sms seperti ini, “Haii, LghiE aPha Nih?” Atau untuk yang pacaran, “Aqu cHaiiank bGdth Cmha Qmoe”. Alay banget, kaaaan? Eh, maaf.
Saya jadi penasaran. Siapa, sih, orang paling pertama yang menciptakan tulisan alay seperti itu?
Bagaimanapun, alay juga mempunyai sisi positif, menurut saya.

Yah, saya hanya bisa nulis disini. Menumpahkan semua unek-unek saya tentang judges dari mantan alay. Saya tidak memihak kemana-mana, kok. Honestly, saya juga masih sering keceplosan ngatain orang alay, meskipun hanya bercanda. Tetapi untuk tulisan ini, saya tidak bercanda. Rasanya, saya ingin sekali bisa teriak di depan muka orang yang ngatain orang alay, “Ngaca dulu, deh lo! Bukannya lo juga mantan alay!” Tetapi itu tidak mungkin, saya tidak mau menjadi penyebab perang dunia ketiga.

So, ngapain nge-judge orang kalo sendirinya mantan alay akut? AL4y itu kreatif gitulho!

http://m.kompasiana.com/post/sosbud/2013/02/18/al4y-itu-kreatif/

AL4y itu Kreatif!

Oleh: Helena Annisa | 18 February 2013 | 15:29 WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE

Tinggalkan Pesan Chat
Chat-icon 1



Online saat ini : 3 orang, hari ini: 114 orang, minggu ini: 1987 orang, bulan ini: 15073 orang, total semuanya: 290265 orang
, United StatesUnited States,CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)