Insane
HomeBlog Okta AdityaAbout me
Jumlah pengunjung total blog :329099
United StatesUnited States
Mobile blogging service82Unknown
My Acount Facebook

My Acount Twitter

Follow @AdityaEmail_


International News Latest


Google News

Source: Google news


Top News CNN

European elections 2019: Polls take place across the UK -> (2019-05-22 23:01)

Theresa May faces pressure after Andrea Leadsom resigns -> (2019-05-22 23:01)

Ozone layer: Banned CFCs traced to China say scientists -> (2019-05-22 21:31)

HMS Queen Elizabeth captain flown off ship in 'company car' row -> (2019-05-23 00:11)

Roller derby team proud of Middlesbrough -> (2019-05-22 23:22)

Source: CNN


BLOG NYA OKTA ADITYA

Teraktual, Menarik, Bermanfaat, dan Terinspirasi dalam mengabarkan segala opini, ide, gagasan maupun berbagai macam pengalaman dari berbagai kalangan. Blog yang terpercaya rekomendasi Google.


Semula saya membuat blog ini dari awalnya hanya ingin menulis tentang pengalaman, pandangan, opini dan gagasan saya pribadi.

Lantas, setelah saya sering membaca berbagai opini dan gagasan para penulis lainya yang sangat inspiratif dan sangat bermanfaat, saya tergerak untuk mengeshare di blog saya, bertujuan agar sebagai catatan berguna suatu saat untuk saya sendiri dan semoga bermanfaat juga bagi siapa yang berkunjung di blog saya ini.

Semua konten rata-rata berasal dari situs http://kompasiana.com konten tulisan yang asli dan unik dari para member kompasiana, Kompasiana menyediakan sebuah wadah yang memungkin setiap pengguna Internet membuat konten berita, opini dan fiksi untuk dinikmati oleh para pengguna Internet lainnya.

Walhasil, sekitar 800 konten dalam bentuk tulisan dan foto mengalir di Kompasiana. Konten-konten yang dibuat warga juga cenderung mengikuti arus positif dan bermanfaat karena Kompasiana akan memoderasi konten-konten negatif selama 24 jam.

Nah, dari berbagai tulisan itulah saya menyaring beberapa tulisan yang saya kira wajib untuk saya simpan sendiri, sudah barang tentu tulisan yang aktual, inspiratif bermanfaat dan menarik.

Sebagai sebuah media, Kompasiana cukup unik. Karena dari sisi konten, media berslogan “sharing connecting” ini mengelola konten-konten di dalamnya layaknya sebuah media berita yang selama ini hanya diisi oleh wartawan dan editor media massa. Tapi dari sisi User Interface maupun User Experience, Kompasiana merupakan media sosial yang menyajikan dua fitur utama sekaligus, yaitu fitur blog (social blog) dan fitur pertemanan (social networking).

Itulah yang membuat Kompasiana melejit cepat menjadi website besar hanya dalam kurun waktu empat tahun. Bila sekarang Anda mengecek posisi Kompasiana di pemeringkat website Alexa.com, Anda akan melihat peringkatnya berada di posisi 30 (pernah berada di posisi 29, kadang turun ke posisi 32) di antara website-website yang diakses di Indonesia.

Di kategori website media sosial, Kompasiana berada di posisi ke-8 setelah Facebook (1), Blogspot.com (4), YouTube (5), Wordpress (7), Kaskus (9), Blogger.com (11) dan Twitter (12). Sedangkan di kategori website berita dan informasi, media warga ini berada di posisi ke-4 setelah Detik.com (8), Kompas.com (12) dan Viva.co.id (19). Posisi ini cukup kuat, karena di bawah Kompasiana masih ada Okezone.com (33), Kapanlagi.com (35), Tribunnews.com (40), Tempo.co (47), dan media massa besar lainnya.

Ke depan, dengan semakin besarnya euporia masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet dan media sosial, serta semakin besarnya pengakses internet lewat ponsel, Kompasiana mendapat tantangan besar untuk terus meningkatkan kinerjanya. Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan menghadirkan enjin yang lebih stabil, lebih andal, lebih nyaman, lebih terbuka dan lebih sosial. Juga harus dihadapi dengan kesiapan insfrastruktur yang lebih besar dan kuat. Dan itulah yang sedang berlangsung di dapur Kompasiana jdi awal 2013.



Bagi yang suka ide gagasan, alasan, ulasan dan opini yang dekstruktif, dijamin tidak akan kecewa membaca tulisan kompasianer yang saya share di balik konten saya dibawah ini,

Selamat membaca, Semoga bermanfaat walau tidak sependapat,
Konten dan artikel selengkapnya klik tautan ini.,
Artikel dan Konten Blog :

Manfaat Limbah Kopi Yang Terlupakan

Tumpukan limbah cangkang kopi yang menggunung sering ditemukan di sejumlah pabrik penggilingan kopi. Limbah itu dianggap sampah. Ketika sudah terlalu banyak, limbah cangkang kopi itu dibakar. Akhir-akhir ini, limbah cangkang kopi itu digunakan petani sebagai pupuk. Meskipun limbah itu sudah diangkut oleh petani, ternyata gunungan limbah ini tak kunjung habis.

Menurut Odi Iskandar (35) pelatih handycraft dari Dinas Perindagkop Aceh Tengah, Selasa (5/1) disela-sela minum kopi sore di Horas Cafe Takengon, mengatakan bahwa limbah cangkang kopi itu bisa menghasilkan uang. Sangat disayangkan jika limbah cangkang kopi itu dibakar, sama dengan membakar uang.

Selama ini, limbah itu dianggap sampah yang sangat mengganggu. Pengetahuan petani tentang manfaat limbah cangkang kopi masih terbatas. Mereka hanya mengetahui bahwa limbah itu sebagai kompos. Padahal, kata Odi, limbah cangkang kopi itu bisa diolah menjadi particle board dan briket arang, bahkan sebagai pakan ternak.

Obrolannya jadi menarik. Saya bertanya, kenapa dia tidak mengajarkan pengetahuan itu kepada mereka. Menurut Odi, pihaknya sudah melatih sejumlah petani, namun mereka lebih memilih usaha yang mudah yaitu menjadi buruh petik kopi. “Sebagai buruh petik kopi, mereka dapat penghasilan bersih Rp.50 ribu per hari,” ungkapnya.

Cara membuatnya sangat mudah, kata Odi. Untuk pembuatan papan partikel (particle board), cangkang kopi tadi dikeringkan lalu dicampur dengan potongan sampah plastik. Bahan ini dimasukan kedalam mal papan press tekanan tinggi pada suhu 180 oC. Setelah itu didinginkan dan terbentuklah lembaran papan yang dapat digunakan untuk plafon interior dan eksterior, atau untuk sekat ruangan.

Limbah plastik dapat dimanfaatkan, cangkang kopi bukan lagi sebagai limbah, tentu pembuatan particle board ini ramah lingkungan. Odi berani mengungkapkan hal ini karena dia sudah melakukan uji coba pembuatan particle board. Beberapa meja di rumahnya menggunakan bahan particle board berbahan baku cangkang kopi. “Kalau ada yang mau, saya siap mengajarkannya,” tegas Odi.

Menyangkut dengan briket arang dari cangkang kopi, menurut Odi sangat mudah membuatnya. Sebenarnya bahan bakar memasak ini sangat penting bagi petani, selain karena harga BBM (gas) yang terus naik dan menguras kantong petani, juga ketersediaan bahan bakunya sangat berlebih. Cara membuat briket arang dari cangkang kopi cukup mudah, sebut Odi. Masukkan cangkang kopi dalam drum pirolisis (drum peng-arangan) untuk memperoleh produk asap cair (Liquid Smoke: sebagai bahan pestisida). Kemudian, arangnya dicampur dengan kanji lalu dipress/cetak menjadi briket. Kemudian, briket itu dapat dijadikan bahan bakar memasak atau untuk tungku perapian (pemanas ruangan). “Tidak perlu lagi menebang kayu, cukup briket limbah yang bisa dibuat sendiri sebagai bahan bakar,” ungkap Odi.

Malah, lanjut Odi, cangkang kopi dapat dijadikan bahan wall paper. Caranya: Cangkang kopi dicampur dengan perekat lalu dibuat mall/cetakan sesuai kebutuhan. Kemudian di-press hot sehingga terbentuk lembaran-lembaran yang bisa digunakan sebagai wall paper. Tentu wall paper ini bernilai seni tinggi dengan corak-corak alami kulit kopi. “Semua karya ini menjadi sumber uang,” imbuh lelaki asal Jawa Barat itu.

Pingin mencoba? Odi Iskandar siap mengajarkan para kompasianer untuk memanfaatkan limbah. Dia tidak minta bayaran, dengan catatan semua biaya pembelian bahan, konsumsi, transportasi dan akomodasi ditanggung oleh peserta.

http://m.kompasiana.com/post/polusi/2013/02/06/limbah-cangkang-kopi-bisa-hasilkan-uang/

Limbah Cangkang Kopi Bisa Hasilkan Uang

Oleh: Syukri Muhammad Syukri | 06 February 2013 | 01:10 WIB.

Back to posts
Comments:
[2015-07-22 20:04] jefri :

Min..bisa minta kontak person bg odi nya..


UNDER MAINTENANCE

Tinggalkan Pesan Chat
Chat-icon 1



Online saat ini : 2 orang, hari ini: 82 orang, minggu ini: 561 orang, bulan ini: 2905 orang, total semuanya: 329099 orang
, United StatesUnited States,CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)