The Soda Pop
HomeBlog Okta AdityaAbout me
Jumlah pengunjung total blog :287869
United StatesUnited States
Build your mobile website490Unknown
My Acount Facebook

My Acount Twitter

Follow @AdityaEmail_


International News Latest


Google News

Source: Google news


Top News CNN

Theresa May condemns Tony Blair's new Brexit vote call -> (2018-12-16 11:44)

Katowice: COP24 Climate change deal to bring pact to life -> (2018-12-16 08:28)

Collingham fire: Boy, 5, is third family member to die -> (2018-12-16 11:13)

Buncefield fire: 'Idiotic' teens capture fuel depot blaze on film -> (2018-12-16 05:49)

Shrewsbury crash leaves car vertical in tree -> (2018-12-16 11:10)

Source: CNN


BLOG NYA OKTA ADITYA

Teraktual, Menarik, Bermanfaat, dan Terinspirasi dalam mengabarkan segala opini, ide, gagasan maupun berbagai macam pengalaman dari berbagai kalangan. Blog yang terpercaya rekomendasi Google.


Semula saya membuat blog ini dari awalnya hanya ingin menulis tentang pengalaman, pandangan, opini dan gagasan saya pribadi.

Lantas, setelah saya sering membaca berbagai opini dan gagasan para penulis lainya yang sangat inspiratif dan sangat bermanfaat, saya tergerak untuk mengeshare di blog saya, bertujuan agar sebagai catatan berguna suatu saat untuk saya sendiri dan semoga bermanfaat juga bagi siapa yang berkunjung di blog saya ini.

Semua konten rata-rata berasal dari situs http://kompasiana.com konten tulisan yang asli dan unik dari para member kompasiana, Kompasiana menyediakan sebuah wadah yang memungkin setiap pengguna Internet membuat konten berita, opini dan fiksi untuk dinikmati oleh para pengguna Internet lainnya.

Walhasil, sekitar 800 konten dalam bentuk tulisan dan foto mengalir di Kompasiana. Konten-konten yang dibuat warga juga cenderung mengikuti arus positif dan bermanfaat karena Kompasiana akan memoderasi konten-konten negatif selama 24 jam.

Nah, dari berbagai tulisan itulah saya menyaring beberapa tulisan yang saya kira wajib untuk saya simpan sendiri, sudah barang tentu tulisan yang aktual, inspiratif bermanfaat dan menarik.

Sebagai sebuah media, Kompasiana cukup unik. Karena dari sisi konten, media berslogan “sharing connecting” ini mengelola konten-konten di dalamnya layaknya sebuah media berita yang selama ini hanya diisi oleh wartawan dan editor media massa. Tapi dari sisi User Interface maupun User Experience, Kompasiana merupakan media sosial yang menyajikan dua fitur utama sekaligus, yaitu fitur blog (social blog) dan fitur pertemanan (social networking).

Itulah yang membuat Kompasiana melejit cepat menjadi website besar hanya dalam kurun waktu empat tahun. Bila sekarang Anda mengecek posisi Kompasiana di pemeringkat website Alexa.com, Anda akan melihat peringkatnya berada di posisi 30 (pernah berada di posisi 29, kadang turun ke posisi 32) di antara website-website yang diakses di Indonesia.

Di kategori website media sosial, Kompasiana berada di posisi ke-8 setelah Facebook (1), Blogspot.com (4), YouTube (5), Wordpress (7), Kaskus (9), Blogger.com (11) dan Twitter (12). Sedangkan di kategori website berita dan informasi, media warga ini berada di posisi ke-4 setelah Detik.com (8), Kompas.com (12) dan Viva.co.id (19). Posisi ini cukup kuat, karena di bawah Kompasiana masih ada Okezone.com (33), Kapanlagi.com (35), Tribunnews.com (40), Tempo.co (47), dan media massa besar lainnya.

Ke depan, dengan semakin besarnya euporia masyarakat Indonesia dalam menggunakan internet dan media sosial, serta semakin besarnya pengakses internet lewat ponsel, Kompasiana mendapat tantangan besar untuk terus meningkatkan kinerjanya. Tantangan itu hanya bisa dijawab dengan menghadirkan enjin yang lebih stabil, lebih andal, lebih nyaman, lebih terbuka dan lebih sosial. Juga harus dihadapi dengan kesiapan insfrastruktur yang lebih besar dan kuat. Dan itulah yang sedang berlangsung di dapur Kompasiana jdi awal 2013.



Bagi yang suka ide gagasan, alasan, ulasan dan opini yang dekstruktif, dijamin tidak akan kecewa membaca tulisan kompasianer yang saya share di balik konten saya dibawah ini,

Selamat membaca, Semoga bermanfaat walau tidak sependapat,
Konten dan artikel selengkapnya klik tautan ini.,
Artikel dan Konten Blog :

Rel Kereta Api

Manfaat Gila Rel Kereta Api

Saya punya teman seorang wirausahawan ulet.
Menurut saya, dia memang punya bakat lahir
menjadi pedagang. Sering kali saya terkagum
menyaksikan langsung cara dia menjual sesuatu
barang, mulai dari mobil, sabun mandi bahkan
korek api merek baru. Saat saya dan teman lain
pesimis bahwa barang yang ia tawarkan tak akan
dibeli ternyata dia mampu meyakinkan orang lain
untuk membeli. Dia adalah pedagang ulet
sekaligus berbakat. Hal ini terbukti bahwa hingga
hari ini usahanya berkembang terus sampai
memiliki sebuah restoran dan beberapa toko. ;)

Sebagai seorang pedagang ulet, sering kali yang ia
pikirkan adalah usaha. Ia menceritakan bagaimana
orang bisa berpikir untuk membikin tusuk gigi
sehingga menjadi barang dagangan. Ia
menceritakan kenapa orang lain lebih dulu punya
ide bikin air dalam kemasan sehingga dijual
hampir seharga bensin. Bahkan ia juga pernah
memaparkan berapa penghasilan yang mungkin
bisa didapatkan jika mengelola wc umum di setiap
terminal se-Jawa Barat. :-D

Dari sekian banyak cerita, ide, dan uneg-uneg
teman saya ini, ada satu ide gila yang membuat
saya tertawa sekaligus mikir serius. Bahkan sampai
sekarang saya memikirkannya dan belum
terjawab. -_-

Pada suatu hari ketika kami menyusuri jalan kota
dan melalui ruas jalan yang menggelembung
karena lapisan aspal dihamparkan begitu saja di
atas rel kereta bekas yang tak terpakai lagi, teman
saya nyeletuk: “kenapa rel itu ditutupi aspal begitu
saja? Jalan jadi menggelembung, bikin tak nyaman
dan mobil cepat rusak”. Menyambung celetukan
itu, teman saya menyampaikan kritiknya
singkatnya terhadap cara kerja pemerintah yang
tidak egektif dan efisien, tentu dalam perspektif
bisnis dan bukan dalam perpektif politis. :-)

Menurut teman saya ini, seharusnya rel yang
melintang menyilang dengan ruas jalan itu
dibongkar sebelum melakukan pengerasan jalan
raya sehingga badan jalan bisa rata tanpa
gangguan bekas rel. Aspal jalan akan menjadi lebih
awet dan nyaman dilalui. Rel kereta itu mungkin
telah tak terpakai sejak kemerdekaan Republik
Indonesia, sehingga tipis harapan untuk
mengaktifkan kembali jalur rel itu. :-(

Dari pada mengganggu jalan raya, besi bekas rel
itu seharusnya bisa dikumpulkan dan dilebur
menjadi bahan perkakas.

Jika seluruh rel yang tak terpakai di pulau jawa
saja dijadikan bahan pisau silet maka ada berapa
milyar pisau silet yang bisa kita produksi? Mungkin
juga produk itu akan menjadi pisau silet terbaik
sejagat.

Gagasan teman saya ini dilontarkan hampir dua
puluh tahun yang lalu ketika kami masih kuliah.
Ide gila ini kemudian menyeret saya pada
pertanyaan panjang yang tak terjawab hingga
sekarang: mengapa rel bekas itu tak dibongkar
dan digunakan untuk bahan peralatan logam yang
kita butuhkan? :D

Saya sering melihat bentangan rel kereta yang
sudah terpakai lagi. Di perkotaan sering kali jalur
rel yang telah mati itu berdiri pemukiman tak
berijin yang dimanfaatkan kaum urban yang tak
sanggup membeli tanah. Ke arah selatan Bandung
misalnya masih ada jalur rel yang diatasnya telah
dibangun rumah penduduk. Ada pula yang
tertimbun tanah secara alami dan di atasnya telah
rimbun tumbuhan liar. Bahkan ada rel kereta yang
berdiri kokoh melintasi sungai. -_-

Kenapa rel kereta bekas itu dibiarkan? Seandainya
semua besi rel bekas yang tak terpakai se-pulau
jawa dikumpulkan, mungkin ada berapa ribu atau
malah berjuta ton besi bekas yang mutunya jauh
lebih prima dari besa yang diproduksi dewasa ini.
Besi-besi itu telah teruji selama puluhan atau
bahkan ratusan tahun, tak kelihatan tergerus dan
berkarat. :-)

Seandainya semua besi-besi itu dijadikan pisau
silet - mengulangi pertanyaan teman saya - ada
berapa pemasukan negara bertambah?

Tentu bukan hanya teman saya yang gila kalkulasi
bisnis saja yang punya ide memanfaatkan besi
bekas rel itu. Mungkin setiap orang madura yang
terkenal sebagai pelaku bisnis besi bekas juga
punya ide yang sama. Namun kenapa tak mereka
lakukan? ‘Mengapa besi bekas rel peninggalan
jaman kolonial itu tak dimanfaatkan oleh
pemerintah atau oleh PT KAI untuk menambah
penghasilan?’ Atau, ‘adakah pihak yang lebih
berhak atas rel itu dibanding pemerintah RI atau
PT KAI sendiri?’ atau ‘apakah masyarakat yang
mengambilnya bisa dikenai hukuman?’ Pertanyaan
ini masih menggantung di pikiran saya dan belum
terjawab sampai sekarang. Pertanyaan ini lebih
menantang sayia dari dari pada pertanyaan,

‘berapa keuntungan yang bisa didapat jika besi-
besi itu dijadikan pisau silet?’

Adakah rekan-rekan kompasianer yang punya
jawaban atas pertanyaan saya? Berbagilah.
***
:-) :-D

Sumber http://m.kompasiana.com/post/bisnis/2013/01/07/jika-rel-kereta-dijadikan-silet/

Jika Rel Kereta Dijadikan Silet

Oleh: Fidel Dapati Giawa | 07 January 2013 | 00:32
WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE

Tinggalkan Pesan Chat
Chat-icon 1



Online saat ini : 3 orang, hari ini: 490 orang, minggu ini: 5824 orang, bulan ini: 12677 orang, total semuanya: 287869 orang
, United StatesUnited States,CCBot/2.0 (https://commoncrawl.org/faq/)