Polaroid
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Tags: Agama, Unik

Cara Pemilhan Paus Baru

Sejak Paus Benedictus mengumumkan pengunduran dirinya pada tanggal 11 Februari silam, umat Katolik seluruh dunia harap-harap cemas menanti Paus berikutnya. Pengunduran Paus Benedictus yang secara resmi berlaku efektif sejak 28 Februari itu membuat banyak orang berusaha menerka-nerka siapa yang layak dan pantas memangku jabatan primat uskup itu. Usaha untuk menerka-nerka itu sah-sah saja.

Rupanya, banyak orang tidak tahu bagaimana proses pemilihan seorang Paus. Pemilihan seorang Paus adalah peristiwa unik yang menarik untuk disimak. Dalam tradisi Gereja Katolik, sidang untuk memilih Paus disebut sidang konklav. Terhitung sejak berlaku secara resmi pengunduran diri Paus Benedictus pada tanggal 28 Februari silam, kepemimpinan Gereja Katolik mengalami sede vacante atau tahta lowong. Pada masa tahta lowong inilah sidang konklav diadakan. Untuk sidang pemilihan paus pengganti Paus Benedictus, diadakan mulai 12 Maret 2013. Ketika sidang konklav berlangsung, mata semua orang akan tertuju pada cerobong asap di kapel Sixtina. Umat katolik menanti-nantikan asap yang berwarna putih sebagai tanda telah dipilihnya seorang Paus yang baru.

Kelihatannya sederhana. Tetapi tidaklah demikian dalam prakteknya. Sidang konklav diikuti oleh semua kardinal di seluruh dunia yang berusia di bawah 80 tahun. Sidang ini dimulai dengan sebuah perayaan Ekaristi Pro Eligendo Romano Pontifice atau Misa pemilihan Paus Roma. Ekaristi pembuka ini diikuti oleh semua kardinal pemilih dan juga terbuka untuk seluruh umat katolik. Perayaan Ekaristi ini akan dipimpin oleh Kardinal Angelo Sodano, pemimpin kolegium para Kardinal. Perayaan Ekaristi ini diadakan di Basilika Santo Petrus, Vatikan.

12 Maret sore, pada kardinal pemilih akan berkumpul di Kapel Paulina untuk kemudian berarak menuju ke tempat sidang konklav akan berlangsung, yaitu di Kapel Sixtina. Kapel ini berada di tengah-tengah bangunan Vatikan. Dengan berpakaian serba merah, para kardinal berprosesi dengan dikawal oleh para tentara Swiss dan polisi Italia. Pengawalan ini dimaksudkan untuk menjaga supaya tidak ada kontak dengan pihak luar.

Di sinilah letak keunikan sidang konklav. Selama sidang, para kardinal pemilih tidak diperkenankan menjali komunikasi dengan pihak luar. Selama sidang, para kardinal pemilih benar-benar dalam kesendirian dan melayani diri mereka sendiri. Segala bentuk sarana prasarana yang membantu komunikasi disingkirkan. Hal ini untuk menjamin kenetralan dari para kardinal pemilih. Tidak adanya komunikasi dari luar menjadi cara untuk menghindari adanya campur tangan pihak luar.

Setelah segala syarat awal terpenuhi, dimulailah sidang konklav. Di awal konklav, Kardinal Kepala Kollegium memilih tiga Kardinal termuda sebagai tenaga-tenaga pelancar selama konklav. Hari pertama atau Selasa malam, hanya diadakan sekali putaran. Selanjutnya, diadakan empat kali putaran dengan pembagian dua putaran di pagi hari dan dua putaran di sore hari.

Ada pun tata cara pemilihan dengan memilih langsung. Para kardinal pemilih akan diberi selembar kertas bertuliskan bahasa Latin: Eligo in Sumum Pontificem Meum, artinya: Saya memilih Pemimpin Tertinggiku. Di bawahnya terdapat ruangan untuk menulis nama orang yang ingin dipilih.

Setelah semua Kardinal memilih, mereka diminta untuk beranjak dari tempat duduknya menuju Altar, di mana sudah disediakan sebuah tempayan atau piala. Inilah tempat yang akan digunakan para kardinal memasukan kertas suara mereka. Mereka dipanggil menurut pangkat dan jabatan.

Untuk konklav kali ini, berbasis pada motu proprio Paus Benediktus XVI yang melengkapi peraturan konklav dari pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II, seandainya seorang calon terpilih dengan mayoritas 77 suara, artinya duapertiga dari jumlah seluruh pemilih, maka dengan itu seorang Paus sudah terpilih. Jika belum ada minimal mayoritas duapertiga,maka pemilihan akan dilanjutkan ke putaran berikutnya. Akan tetapi jika lebih dari putaran ke-30 dan belum juga terpilih seorang Paus, maka, sesuai motu proprio Paus Benedictus tahun 2007, dua kandidat dengan perolehan suara terbanyak, akan dipilih oleh para Kardinal. Dua kandidat ini otomatis kehilangan hak memilih.

Di akhir sebuah putaran, kertas-kertas yang sudah terbuka akan dilobangkan dengan sebuah jarum lalu dibariskan pada seutas benang lalu dimasukan ke dalam oven untuk dibakar. Kalau putaran tersebut belum menghasilkan seorang Paus, maka kertas-kertas itu dibakar dengan campuran zat kimia yang menghasilkan asap warna hitam. Hal ini memberikan isyarat kepada umat Katolik seluruh dunia bahwa Paus belum terpilih.

Seandainya seorang Paus sudah terpilih, maka Kardinal Dekan menanyakan kepada yang bersangkutan: apakah dia menerima pemilihan tersebut. Ketika dia menjawab YA sebagai tanda kesediaannya, maka kepadanya dilontarkan pertanyaan kedua: Apa nama yang digunakan sebagai Paus. Setelah memberikan jawaban kepada kedua pertanyaan ini dengan jelas, Paus baru dikenakan sebuah tanda khusus berupa sebuah pakaian kebesaran.

Setelah mengenakan pakaian khusus ini, Paus terpilih beranjak dari tempatnya menuju ke Altar. Di hadapannya para Kardinal akan mengucapkan janji setia dan ketaatan mereka kepada Paus terpilih. Setelah itu semua bertepuk tangan dan mengucapkan selamat kepada Paus terpilih.

Pada saat itu pengurus pembakaran kertas pilihan memasukkan kertas-kertas yang sudah dideretkan pada seutas tali dan dibakar dengan campuran kimia yang menghasilkan asap warna putih, sebagai tanda bahwa Gereja Katolik sudah memiliki seorang Paus. Keluarnya asap putih dari cerobong di atas atap Kapela Sixtina akan diiringi dengan bunyi lonceng raksasa.

Setelah itu, proses perkenalan kepada umat dilakukan dengan berbagai prosesinya. Perkenalan itu sekaligus untuk menunjukkan hadirnya seorang pemimpin baru bagi Gereja Katolik.

Kini, seluruh umat Katolik menanti-nanti hadirnya gembala baru setelah mundurnya Paus Benedictus karena alasan usia dan kesehatanAtas rahmat Allah, ke 115 kardinal akan mengadakan sidang konklav. Di tangan para kardinal itulah

kepemimpinan Gereja akan dilanjutkan. Seraya menanti-nanti hadirnya pemimpin baru, aneka bentuk doa sewajarnya dipanjatkan seraya memohon campur tangan Allah melalui para kardinal. Allah yang telah memulai pekerjaan baik di antara kita, Ia pula yang akan menyelesaikannya

The Next Pope?

Oleh: Yswitopr | 11 March 2013 | 22:16 WIB

http://m.kompasiana.com/post/luar-negeri/2013/03/11/the-next-pope/

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 2