Snack's 1967
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan

Suatu hari di tahun 1999. Saat itu saya sudah bekerja di SPORT Cafe, sebuah tongkrongan muda-mudi di sudut Jalan Jawa - Jember. Di cafe tersebut, tugas saya beragam. Mulai dari mengatur manajemen cafe, mempersiapkan segala makanan - minuman yang dipesan oleh pelanggan, hingga menjadi pramusaji sendiri.

Hasil yang saya dapat dari bekerja di cafe tersebut bisa dibilang tak nampak. Itu karena saya bekerja ikut saudara. Tahu sendirilah bagaimana proses gaji ketika kita bekerja atas dasar hal seperti itu.

Pada saat itu, saya sudah berstatus sebagai seorang mahasiswa di sebuah PTN di kota kecil Jember. Kebutuhan uang yang paling mencolok adalah menutup biaya SPP. Tapi saya masih muda, masih gampang sekali tergiur oleh godaan iklan dan diskon yang menyesatkan :) Alhasil, saya menerima tawaran seorang teman (bernama Mas Dian) untuk bekerja sebagai sales CD bajakan.

Liku-liku Peorang Penjual VCD Bajakan

Jadilah akhirnya saya bekerja sebagai seorang sales kaset bajakan. Bos saya bernama Pak Gofur. Oleh anak buahnya, beliau dikenal garang. Apabila ada salah satu dari kami (para anak buah) nyempal dan mencoba merintis penjualan kaset sendiri, Pak Gofur akan sangat marah. Biasanya kemarahan beliau diekspresikan dalam bentuk kekerasan fisik. Ya, saya beberapa kali melihat sendiri, betapa marahnya Pak Gofur ketika mengetahui beberapa teman saya berjualan VCD bajakan secara mandiri.

Kenapa banyak dari kami berhasrat untuk berjualan sendiri? Karena kami belajar dari Pak Gofur. Bagaimana cara beliau kulak’an kaset di Siola (kadang-kadang, Pak Gofur juga mengambil barang dagangan dari Glodog dalam jumlah besar), bagaimana beliau mendistribusikannya, dan segala cara bisnis yang beliau lakukan. Kami melihat, mengikuti, mengamati, dan berhasrat untuk melakukannya secara mandiri. Di sisi yang lain, kami adalah kuda-kuda milik Pak Gofur, yang diharapkan bisa menjalankan roda gerobak bisnis miliknya. Bisa dibilang, Pak Gofur adalah guru bagi kami, segarang apapun beliau.

Mudah, dan hasilnya menggiurkan, itu yang membuat kami ingin berbisnis secara mandiri. Bayangkan saja, sekeping kaset goyang ngebor Inul Daratista (saat itu Inul masih belum begitu terkenal) saya beli dengan harga 1.500 rupiah, dengan harga jual antara 20.000 hingga 25.000. paling apes, terjual dengan harga 10.000 rupiah. Kadang dalam sehari, saya hanya menjual 3 - 4 keping CD bajakan. Tapi kalau kaset yang terjual itu adalah kaset pesanan (banyak dicari orang), keuntungan beberapa CD bajakan itu sudah cukup membiayai saya untuk bersenang-senang nongkrong di warung kopi.

Proses penjualannya juga tidak ribet. Saya hanya butuh berpakaian rapi, sopan, untuk kemudian masuk ke instansi-instansi dan menawarkan dagangan. Waktu idealnya adalah saat mereka sedang beristirahat. Saya tidak butuh berkeliling kantor, karena biasanya mereka akan berkumpul sendiri. Apalagi jika saya menerapkan sistem bonus pada seorang Ibu. Maka akan ada semacam viral marketing (saat itu juga) yang sungguh sangat menguntungkan saya.

Ketika Musisi Indonesia Mulai Berkoar

Memasuki akhir tahun 1999 hingga awal tahun 2000, banyak seniman musik negeri ini yang mulai mengeluhkan maraknya kasus pembajakan. Mereka mulai mengadakan aksi keprihatinan. Beberapa dari mereka bahkan turun ke jalan. Aksi keprihatinan itu akhirnya mengerucut pada sebuah wadah bernama PAPPRI, yaitu Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia. Mereka mengeluhkan akan maraknya kasus pembajakan yang dilakukan terhadap karya-karya mereka.

Dan suara mereka didengarkan…

Tiba-tiba marak penggerebegan. Lapak-lapak CD bajakan yang tadinya berjajar di sepanjang pelataran Johar Plasa diberangus oleh aparat. Tidak terkecuali lapak milik teman saya, yang memiliki lima jiwa dirumah kontrakannya untuk dia hidupi. Lapak-lapak yang masih segar bugar berdiri di sana adalah lapak milik mereka yang memiliki relasi ‘hebat.’

Ketika saya memaksa untuk masuk beberapa instansi, tatapan mata mereka tidak sama lagi seperti dulu. Ya saya tahu, sekarang mereka sudah mulai belajar membenci orang-orang seperti saya, yang ‘katanya’ tidak mendukung kemajuan musik Indonesia.

Pergerakan saya dan teman-teman sesama sales CD bajakan semakin tersingkir. Kami masuk ke kampung-kampung, menjajakan CD, berpeluh keringat, dan siap menerima ‘nasehat gratis’ dari warga yang sudah teracuni virus “Stop Konsumsi Produk Bajakan!”

Bahkan mereka yang memiliki player VCD merk ‘tidak jelas’ dan belum selesai dengan kredit playernya pun mulai ikut-ikutan menjauhi kami para penjaja kaset bajakan. Aneh, tadinya kehadiran kami begitu dirindukan oleh mereka, sebagai bentuk perlawanan terhadap VCD Original yang harganya selangit.

Kembang kempis, itulah nasib kami para sales-sales kaset bajakan. Suara kami tak didengarkan. Penyelenggara negeri ini sepertinya tak ada niatan untuk mengumpulkan kami (setidaknya menghimbau) untuk segera banting stir, bekerja di bidang lain yang lebih ‘terhormat.’

Saya sendiri tidak mau larut dalam keadaan yang serba menyudutkan ini. Dengan menyiapkan mental baja, tak lama kemudian saya menghadap ke Pak Gofur, sang juragan kaset bajakan. Saya katakan pada Pak Gofur, jadual kuliah saya semakin padat dan saya ingin konsentrasi di dunia pendidikan saja. Tak dinyana, beliau mengijinkan saya untuk berhenti bekerja. Dengan senyumnya, Pak Gofur mengantarkan kepulangan saya hingga ke pelataran rumahnya.

Sepulang dari rumah Pak Gofur

Ketika saya hendak menuju rumah Pak Gofur, saya harus membelah sebuah lapangan penuh lapak, yang pagi hingga sore harinya dijadikan sebagai pasar tradisional. Begitupun saat pulang, saya harus membelah lapangan penuh lapak itu. Hmmm, sebenarnya bukan hanya lapak-lapak tutup saja yang menghiasi areal tersebut di malam hari. Di sana juga tempatnya para jagoan.

Kira-kira seratus langkah sekeluar saya dari rumah Pak Gofur, ada sekumpulan pemuda yang sedang asyik nongkrong bergerombol. Salah satu dari mereka melambaikan tangan ke arah saya. Karena merasa tak enak hati dengan undangan tersebut, saya pun melangkahkan kaki ke sana. Semakin dekat, saya semakin bisa menghirup aroma alkohol. Ternyata benar, mereka sedang ndlewer.

Setiba di kerumunan itu, tanpa basa basi salah seorang dari mereka melemparkan seonggok botol fanta tepat ke arah saya. Sasarannya adalah wajah. Secara reflek, saya menangkisnya. Syukurlah, berhasil. Namun keberhasilan itu ditanggapi lain oleh mereka. “Loh, arek iki nantang rek! Janc*k!”

Itulah kata pembuka yang berhasil saya ingat. Selebihnya saya tidak tahu. Saya itu saya sibuk menangkis serangan bertubi-tubi dari segala arah yang mereka tujukan kepada saya. Seakan-akan, mereka adalah sekumpulan singa betina yang sedang lapar, dan saya adalah mangsanya. Pertahanan saya kendor begitu cepat. Satu dua pukulan dan tendangan sukses mendarat di tubuh saya yang kurus ini. Dalam keadaan seperti itu, saya sempat berpikir untuk lari saja. tapi yang saya lakukan justru sebaliknya. Bertahan dan melawan sebisanya.

Tiba-tiba saya mendengar sebuah teriakan yang memanggil nama saya, entah dari mana asalnya. “Lari Kiiiim!” Dan saya pun terhipnotis dengan teriakan itu.

Ketika saya berhasil berkelit dari kerumunan untuk kemudian berlari, keadaan menjadi semakin kacau. Ada yang berteriak maling ke arah saya. Mulanya hanya satu suara. Tapi tak perlu menunggu satu menit untuk mendengar suara-suara yang sama. “Maliiiing…!” Kemarahan yang tadinya hanya dimulai dari satu titik gerombolan pemabuk, segera berubah menjadi kemarahan kolektif, meskipun banyak dari orang-orang yang tak tahu mengapa mereka terhipnotis untuk turut mengejar saya.

Lari, lari, dan lari, hanya itu yang bisa saya lakukan. Diantara napas yang sudah mulai ngos-ngosan, saya hanya bisa berdoa pada Yang Maha Memberi Pertolongan.

Terus terang, kisah di atas masihlah panjang. Tapi intinya, saya selamat dari tragedi berdarah itu.

Tak lama kemudian, saya sudah banting stir, yaitu berjualan tempe Cap Nyonya Tyas - Jember. Pekerjaan mengumpulkan laba tempe seratus rupiah demi seratus rupiah tersebut saya lakoni selama hampir dua tahun.

Hari Musik Nasional dimulai pada 9 Maret 2003

Kala itu, Presiden Indonesia adalah Ibu Megawati. Beliau menetapkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Kenapa harus 9 Maret? Karena 9 Maret adalah hari lahir Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Jadi momentumnya dirasa pas. Saya sendiri juga sangat sepakat dengan ini.

Banyak yang memanfaatkan momen Hari Musik Nasional untuk kembali mengingatkan publik akan bahayanya pembajakan karya terhadap laju kreativitas para musisi dan tentunya perkembangan musik Indonesia.

Tamasya Band

Empat tahun kemudian, saya dan kawan-kawan membentuk sebuah group musik indie bernama tamasya band. Sebuah band sederhana yang mengusung lagu-lagu ciptaan sendiri. Band ini masih bertahan hingga saya menuliskan artikel ini.

Meskipun indie, sesekali saya (dan kawan-kawan) bersinggungan dengan dunia music entertaint yang sifatnya nasional. Saya mulai belajar banyak tentang proses bermusik dan bisnis musik tanah air, meskipun saya tidak meletakkan mimpi selangit pada dunia musik. Bagi saya, indie lebih baik. Untuk masalah bisnisnya, cukuplah mengerti saja.

“Oh, ternyata ngene tah dunia musik iku?” Bahasa Indonesianya, Oh ternyata begini toh dunia musik itu?

Kenapa dulu mereka semangat mengkoar-koarkan kalimat, Stop Konsumsi Produk Bajakan? Oalah, ternyata hanya masalah jatah. Semuanya kembali pada masalah perut. Padahal jika mereka mau sedikit saja dewasa, rakyat pasti akan memilih sendiri mana yang terbaik buat mereka. Jika VCD Original adalah yang terbaik, mereka pasti dengan sendirinya akan berbondong-bondong membeli karya original dan meninggalkan yang bajakan.

Jangan anda salah sangka dengan pesan yang saya angkat dalam artikel ini. Bukannya saya pro karya bajakan. Saya juga menghargai kalimat, Stop Konsumsi Produk Bajakan! Tapi semata-mata bukan karena uang. Itu saya rasakan karena tulus ingin menghargai karya cipta. Ketika anda terlalu sibuk mengurusi rejeki di balik karya-karya anda, saya yakin anda tak akan pernah bisa menghasilkan karya yang jujur dan masterpiece. Kalau hanya sekedar mengikuti selera pasar, anda sama saja dengan kami dulu, sewaktu masih menjadi sales VCD bajakan.

Jika saja dulu mereka tahu bahwa VCD bajakan tidak ramah terhadap player VCD, jika saja masyarakat diberi jeda untuk memilih kehendaknya sendiri, tak perlulah ada musisi yang turun ke jalan sambil berkoar-koar.

Adanya penjual dan pengedar VCD bajakan adalah karena masalah ekonomi. Sama seperti saya dulu. Kalau dirunut lebih dalam lagi, ini adalah efek dari pendidikan di negeri ini. Ya, selama saya sekolah dulu, seingat saya belum pernah ada guru yang mengajarkan tentang penghargaan terhadap sebuah karya. Ada sih kalimat-kalimat seperti itu, tapi bias dan cenderung melebar. Lalu tiba-tiba di awal millenium kami sudah dicekoki dengan kalimat yang datangnya dari Jakarta, Stop Pembajakan. Ya tentu saja kami mengalami kekagetan.

Penutup

Sekarang jaman sudah berganti. VCD sudah mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, para musisi mulai malas membuat album untuk karya-karya lagunya. Banyak yang berlari ke RBT, meskipun karya tersebut tersaji secara tidak utuh. Kalaupun harus membuat album, biasanya berupa mini album. Sangat jelas dengan apa yang ingin dikejar. Uang!

Woi para musisi ternama, jangan manja. Jangan sebentar-sebentar berkoar tentang Stop Pembajakan. Cobalah sekali-sekali menengok ke bawah, melihat kondisi pendidikan yang ada, buatlah kesimpulan, lalu lakukan sesuatu, seperti musisi-musisi lain yang telah melakukannya.

Sebagai penutup, saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan dalam artikel ini. Selamat Hari Musik Nasional dan selamat berkarya!


http://m.kompasiana.com/post/musik/2013/03/09/hari-musik-nasional-dan-kenangan-saya-saat-menjadi-sales-vcd-bajakan/

Hari Musik Nasional dan Kenangan Saya saat Menjadi Sales VCD Bajakan

Oleh: Rz Hakim | 09 March 2013 | 16:44 WIB

Back to posts
Comments:
[2018-03-07 14:06] Ramona Jordan :

I came to your Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. We can send you targeted traffic and we let you try it for free. Get over 1,000 targeted visitors per day to your website. Start your free trial: http://insl.co/11 Unsubscribe here: http://xahl.de/q

[2018-03-14 03:39] Ramona Jordan :

This is a message to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya webmaster. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your website: http://insl.co/11 - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse

[2018-03-21 15:50] Ramona Jordan :

I came to your Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. We can send you targeted traffic and we let you try it for free. Get over 1,000 targeted visitors per day to your website. Check it out here: http://xahl.de/p Unsubscribe here: http://xahl.de/q

[2018-03-26 15:38] Kerry Beck :

This is a message to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your website: http://insl.co/11 - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse

[2018-04-22 20:08] Kerry Beck :

I came across your Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya website and wanted to let you know that we have decided to open our POWERFUL and PRIVATE website traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our targeted traffic network with a free trial as we make this offer available again. If you need targeted traffic that is interested in your subject matter or products start your free trial today: http://url.euqueroserummacaco.com/3ewon Unsubscribe here: http://xahl.de/q

[2018-06-07 07:30] Amber Stevens :

This is a comment to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your site: http://url.euqueroserummacaco.com/3ewon - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse

[2018-06-19 17:30] Amber Stevens :

This is a message to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your site: http://stpicks.com/2rusd - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://xahl.de/q

[2018-06-28 03:43] Amber Stevens :

This is a comment to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your website: http://url.euqueroserummacaco.com/3ewon - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://xahl.de/q

[2018-07-31 17:22] Targeted website visitors :

I discovered your Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya page and noticed you could have a lot more traffic. I have found that the key to running a website is making sure the visitors you are getting are interested in your subject matter. We can send you targeted traffic and we let you try it for free. Get over 1,000 targeted visitors per day to your website. Check it out here: https://flust.de/tpuwx Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse
Targeted website visitors https://flust.de/tpuwx

[2018-08-14 18:10] Targeted website visitors :

This is a comment to the Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya admin. Your website is missing out on at least 300 visitors per day. Our traffic system will dramatically increase your traffic to your website: https://flust.de/tpuwx - We offer 500 free targeted visitors during our free trial period and we offer up to 30,000 targeted visitors per month. Hope this helps :) Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse
Targeted website visitors http://stpicks.com/2rusd

[2018-09-07 15:23] Shana Marley :

I came across your Pengalaman Seru Menjual CD Bajakan - Blog Okta Aditya website and wanted to let you know that we have decided to open our POWERFUL and PRIVATE web traffic system to the public for a limited time! You can sign up for our targeted traffic network with a free trial as we make this offer available again. If you need targeted traffic that is interested in your subject matter or products start your free trial today: http://stpicks.com/2rusd Unsubscribe here: http://stpicks.com/2ruse
Shana Marley https://flust.de/tpuwx


UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 1