pacman, rainbows, and roller s
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Tentang Andrea Hirata dan Damar Juniarto

Lanjutan Kasus Blogger Indonesia vs Andrea Hirata

A pen is mightier than a sword. (Edward Buller-Lytton)

Ungkapan yang sangat terkenal itu dibuat oleh Lytton saat menggarap drama Richelieu di tahun 1839. Saya adalah salah satu dari sekian juta (atau mungkin lebih) orang yang mengamini kata-kata tersebut. Kekuatan sebuah tulisan bisa berdampak besar pada seseorang, entah baik atau buruk. Sebuah tulisan bisa membawa seseorang menuju ke puncak ketenaran, namun bisa juga mengantar penulisnya ke penjara.

Mungkin inilah yang tengah dialami oleh penulis novel bestseller Andrea Hirata dan pengamat buku sekaligus blogger Kompasiana Damar Juniarto.

Pasti sudah banyak yang mendengar kisruh antara kedua orang tersebut lantaran adanya perbedaan argumen tentang definisi bestseller yang disematkan dalam novel Laskar Pelangi karangan Andrea. Dalam postingannya di Kompasiana pada 13 Januari lalu, Damar menulis opininya tentang klaim sang pengarang mengenai gelar international bestseller tersebut. Sebagai publisis dan pengamat dunia perbukuan, Damar tidak serta-merta menulis opininya, melainkan bertanya kepada beberapa pihak terkait seperti CEO Bentang Pustaka Salman Faridi dan Maggie Tiojakin, penulis yang akrab menggeluti karya-karya sastra internasional.

Bisa dilihat bahwa Damar membuat sebuah usaha yang lebih daripada kebanyakan blogger dalam menulis kritik, yaitu bertanya kepada orang-orang yang terkait dengan penerbitan novel karya Andrea dan juga menanyakan opini sesama penulis.

Adapun keterangan Andrea mengenai betapa lamanya menunggu kehadiran karya penulis Indonesia yang mendunia selama seratus tahun dipertanyakan Damar dengan menyertakan link website berita yang mengutip ucapan sang pengarang. Dia juga memaparkan sejumlah nama sastrawan Indonesia yang mendahului Andrea dalam mengharumkan nama negara di tingkat internasional melalui karya mereka, seperti Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, dan YB Mangunwijaya.

Saya kira tak ada yang tidak setuju bahwa ketiga nama tersebut telah lebih dulu mendunia dibandingkan Andrea karena kekuatan tulisan mereka yang luar biasa. Jadi saya tidak melihat bahwa opini ini patut dipermasalahkan bila Andrea sudah membantah maksud ucapannya tersebut di media.

Selain itu, persoalan yang juga mengusik Andrea dalam tulisan Damar adalah mengenai klaim penerbitan Laskar Pelangi oleh penerbit besar sekaliber Farrar, Straus and Giroux (FSG) di bulan Februari 2013. Menurut tulisan Damar, buku tersebut diterbitkan oleh salah satu imprint dari FSG, yaitu Sarah Crichton Books, Bila FSG dikenal hanya menerbitkan karya-karya sastra pilihan yang tidak menekankan sisi komersil buku, Sarah Crichton Books sebaliknya. Bukan berarti Sarah Crichton Books tidak berkelas sebagai penerbit, namun ada dua fondasi berbeda dalam penerbitan buku-buku di bawah naungan mereka. Atas tulisan Damar ini, Andrea pun membantahnya lewat media dan bersedia menunjukkan bukti kontrak yang ditandatanganinya sebagai penulis dengan FSG sebagai penerbit.

Jadi apa lagi yang menjadi masalah bagi Andrea? Hak jawab sudah digunakannya di media. Tak sedikit penggemar yang mendukungnya untuk mengacuhkan tulisan Damar dan tetap melanjutkannya untuk terus berkarya agar citranya yang dirugikan bisa luntur dengan sendirinya.

Namun rupanya bantahan di media dan konferensi pers di ruang publik dirasa belum cukup. Andrea akan membawa tulisan Damar ke meja hijau karena merasa dirugikan.

Saya tidak habis pikir mendengar ini, mengingat sosok Andrea bukanlah penulis novel sembarangan. Mengapa sebuah kritik / tudingan membuatnya harus menyeret sang penulis ke jalur hukum bila memang dia merasa argumen Damar mudah sekali dipatahkan seperti yang dikatakannya di media?
Bukankah mutu sebuah karya lebih layak dikedepankan ketimbang gelar international bestseller yang dipermasalahkan oleh seorang blogger?

Apakah Andrea merasa insecure dengan tulisan Damar yang dimuat dan dijadikan HL (headline) di Kompasiana? Mengapa harus demikian? Toh, tulisan itu tidak serta-merta membuatnya kehilangan pembaca setia atau membunuh kisah inspiratif yang dituangkannya dalam Laskar Pelangi.

Seperti kata Kang Pepih Nugraha, dia tetaplah penulis novel kebanggaan Indonesia. Karena itu sudah sewajarnya dia mempertahankan kebanggaan nasional tersebut dengan sikap yang bijaksana.

Sebagai seorang penulis besar yang sudah mendapatkan pengakuan internasional, adalah selayaknya Andrea berkepala dingin dalam menghadapi sebuah kritik yang dialamatkan kepadanya lewat media massa. Bila masih dirasa kurang dan berdampak luas pada karyanya, Andrea bisa menghunus penanya di media massa dan membuat tulisan sanggahan serta klarifikasi tentang tulisan yang dirasa mencemarkan nama baiknya tersebut.

Mata ganti mata, tulisan ganti tulisan. Apa susahnya bagi seorang Andrea menulis di media massa dengan cara yang santun dan anggun?

Sudah pasti banyak media yang bersedia memublikasikan hak jawabnya tersebut secara nasional.

Bila Andrea terlalu lelah menulis sanggahan di media massa, bukankah lebih elok bila dia mengajak serta Damar untuk duduk bersama dan memberikan klarifikasi di hadapan rekan pers? Itu akan membuat Andrea lebih bijak dan menuai reaksi positif para pembaca / pendengar berita.

Menyeret kritikus ke meja hijau (apalagi yang dianggap tidak kompeten menilai karya sastra) malah hanya akan membuat Andrea dianggap arogan oleh banyak orang. Sudah bukan masanya lagi memasung kebebasan beropini di era digital seperti sekarang. Ini juga akan menjadi preseden buruk bagi siapapun yang akan menulis kritik terhadap penulis besar dan / atau karya-karyanya. Sebab, Damar yang menelusuri sedemikian rupa sebelum menulis saja bisa diperkarakan, konon orang awam sebagai penikmat tulisan yang sekadar ingin beropini tentang karya yang mereka baca.

Semoga Hirata Gate ini menjadi pelajaran baik bagi penulis maupun blogger / kritikus.

Blogger / kritikus sudah selayaknya mendukung opininya dengan bertanya kepada orang-orang yang kompeten sebelum memublikasikan tulisannya. Dan bagi para penulis, menanggapi kritik dengan rendah hati dan senyuman bukanlah hal yang sulit. Kritik hadir karena orang peduli terhadap karya Anda.

Sebuah sikap yang bijak bila ditanggapi dengan kepala dingin dan menjawabnya lewat karya-karya baru yang jauh lebih cemerlang.

http://m.kompasiana.com/post/new-media/2013/02/20/hirata-gate-dan-kebebasan/

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 1