Permainan Cinta Di Kamar Mandi
HomeBlog Okta AdityaAbout me



Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Tidak Ada SARA di Brunai Darussalam

Pergi ke Brunei sebenarnya bagi saya bagaikan pulang kampung. Maklum saya pernah tinggal sementara di negri yang berjulukan “Peace of Abode” ini di penghujung millenium yang lalu. Setelah itu, hampir setiap tahun saya selalu saja memiliki kesempatan berkunjung kembali ke negri Sultan Bolkiah yang makmur dan permai ini.

Namun, setiap kali berkunjung, selalu saja ada kejutan yang menarik seperti pada kunjungan pertama. “Mana uang tunjuknya”, itu adalah pertanyaan khas yang diajukan petugas di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta kepada setiap pemegang paspor Indonesia. Pertanyaan ini pada mulanya cukup mengejutkan saya ketika pertama kali naik pesawat Royal Brunei menuju Bandar Seri Begawan di tahun 1990an. Uang tunjuk adalah uang yang harus ditunjukan kepada petugas dengan jumlah paling sedikit sejuta rupiah yang pada saat itu kira-kira setara dengan 400 USD .

Pertanyaan ini kemudian menghilang sekitar tahun 2000-an dan kita pun dapat melenggang menuju Brunei tanpa pertanyaan yang aneh. Yang sedikit beda adalah di formulir imigrasi yang harus diisi ketika berkunjung ke Brunei, selain isian baku seperti nama, tanggal lahir, nomer paspor, dan kewarganegaraan, pengunjung ke Brunei juga harus mengisi kolom ras dan agama.

Ternyata, pertanyaan mengenai agama ini cukup penting karena pengunjung yang beragama Islam tidak diperbolehkan membawa minuman keras ke Brunei, sementara pengunjung non muslim diperbolehkan membawa paling banyak 12 kaleng bir kecil. Yang mendapat keistimewaan adalah pengunjung ataupun warga negara Brunei yang non muslim.

Tahun demi tahun berganti, formulir imigrasi Brunei pun mengalami perubahan, Sekarang ini pertanyaan mengenai agama sudah tidak ada lagi. Namun yang masih tetap muncul adalah pertanyaan mengenai ras . Barangkali berdasarkan ras ini kemudian bisa diterka agama seseorang?

Memasuki pesawat Airbus 320 Royal Brunei , suasana Brunei sudah terasa dengan “doa safar” yang mulai dikumandangkan ketika pesawat mulai bergerak meninggalkan garbarata. Setelah terbang dua jam lebih, pesawat pun kemudian mendarat di Bandara Udara Antarbangsa Brunei yang terletak di kawasan Berakas.

Setelah hampir satu tahun tidak berkunjung ke negri ini, hal pertama yang berubah adalah renovasi besar-besaran yang sedang dilaksanakan di bandara ini. Terlihat bangunan terminal baru yang sedang dibangun di bagian depan terminal lama dan diharapkan akan selesai pada tahun 2014

Dalam taksi yang ,membawa saya ke hotel di kawasan Gadong. Taksi yang dipatok dengan harga flat sebesar 25 Ringgit itu melalui jalan yang mulus di kota Bandar Seri Begawan. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, taksi sudah mendekati kawasan Gadong dan melewati Masjid Sultan Bolkiah yang terkenal dengan keindahannya.

Selamat Datang di Brunei,! Negri dimana selain mengisi “Nationality”, kita juga harus mengisi ras di formulir imigrasi. SARA ternyata tidak menjadi persoalan di negri yang aman dan damai ini!

Bandar Seri Begawan. 7 Februari 2013

http://m.kompasiana.com/post/jalan-jalan/2013/02/07/tidak-ada-sara-di-brunei/

Tidak Ada “SARA” di Brunei

Oleh: Taufikuieks | 07 February 2013 | 08:31 WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 1