Old school Easter eggs.
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Buruknya Sepak Bola Indonesia

:(


Semua kekacauan yang terjadi di dalam sepakbola dalam negeri 2 tahun terakhir ini seakan mempertegas bahwa sistem di negara kita ada yang tak beres. Kegagalan timnas di setiap event bergengsi internasional, dualisme kompetisi, perebutan kekuasaan, buruknya manajemen kepengurusan dalam mengatur rumah tangga PSSI, hutang gaji klub-klub di Indonesia kepada para pemain, kasus meninggalnya pemain dan pelatih asing, sampai sulitnya menemukan 11 orang yang memiliki kapasitas di atas rata-rata untuk membela timnas.

Ya, sudah sejak lama tatanan sistem di PSSI tidak ada yang berani mengubahnya. Bahkan, sampai sekarang belum ada prestasi dan gelar juara diraih, kecuali Piala Kemerdekaan, yang cara mendapatkannya pun harus dgn memukul official tim lawan saat jeda di lorong menuju ruang ganti.

Apa sebenarnya yg terjadi dalam tubuh PSSI?

Pertama, tak adanya pengurus yang benar-benar mempunyai kapasitas mumpuni dalam memajukan sepakbola Indonesia. Terlalu lamanya orang-orang politik memainkan peran sentral dalam PSSI menjadikan program-program PSSI menjadi suatu kepentingan bagi kelompok masing-masing

Masih ingatkah produk Primavera yang pernah berlatih menimba ilmu di luar negeri? Saat itu angkatan Kurniawan cs digadang akan menjadi generasi emas sepak bola Indonesia. Namun jujur saja dan mohon maaf, saat melihat penampilan fisik Kurniawan pun saya ragu, apakah orang ini bisa benar-benar menjadi pesepakbola yang hebat. Dan akhirnya terbukti, kelas Primavera hilang tak berbekas tanpa satupun prestasi yang dipersembahkan. Sekarang kembali muncul produk SAD yang kembali digadang menjadi generasi emas sepakbola Indonesia. Namun setelah menimba ilmu di Uruguay, sampai sekarang tidak ada yang bisa menembus bahkan level 2 dari liga2 Eropa dan Amerika Latin.

Syamsul Arif yang katanya menembus skuad CS Visse belum terdengar kiprah debutnya, sekarang kembali dipinjamkan ke DC United dan digadang akan bisa menembus skuad inti klub AS tersebut. Mungkinkah? Hanya waktu yg akan menjawab. Lalu bagaimana lulusan SAD lainnya? Entahlah.

-_-

Menjadi pesepakbola top, tidak bisa lepas dari Fisik dan skill yang prima. Bahkan penelitian terakhir membuktikan bahwa tak ada 1 pemain Indonesia pun yg bisa menembus batas minimal VO2 Max. Kita lihat Lionel Messi, bisa berlari menggiring bola 90 menit full. Ryan Giggs yg usianya 39th masih bisa meliuk-liuk selama lebih dari 50 menit pertandingan.

Ada yang salah dgn sistem pembinaan pemain kita. Pasti ada yang salah. Entah apakah itu tidak disadari atau pengurusnya yang tidak mengerti hal itu. Sampai akhirnya seorang coach Timo mempublikasikan bukunya untuk pembinaan pemain.

Ketika menapaki usia awal bermain, pemain tidak dibiasakan oleh sistem latihan yang benar. Ketika mulai menapaki karir, kebiasaan ini sudah tertanam dalam diri para pemain, sehingga tak ada disiplin tinggi saat latihan. Kondisi fisik ditentukan metode latihan dan pola hidup yang tepat dan disiplin.

Dalam kompetisi pun potensi sang pemain bisa dibilang hanya jalan ditempat. Selama ini Indonesia, bermodal hanya dribel kencang dan tendangan keras pun bisa masuk timnas dan klub ternama, bahkan digaji besar.

Bosankah anda melihat cara bermain timnas yang itu-itu saja? Saya pribadi bosan, melihat pemain yang terburu-buru melepaskan tendangan gledek keras yang berbahaya bagi penonton, bukan kiper lawan. Sejauh ini hanya Bima Sakti yang memiliki tendangan keras terarah. Itupun jika dipresentasikan dgn jumlah shoot, tidak lebih baik dibandingkan seorang Steven Gerrard.

Dengan kata lain skill dasar sepakbola tak ada yang menguasai penuh. Hanya sebagian saja yang punya sedikit skill dasar.

Pemain pun tak ada yang bisa mengumpan secara benar-benar terarah serta mengontrol bola. Ketika menonton timnas, selalu bingung mengapa mereka terlihat begitu kelabakan sat menerima umpan lambung. Bola akhirnya mental ke sana-sini, ataupun keluar lapangan.

Saat umpan silang, lebih mengherankan karena tak pernah ada skema yg baik saat terjadi gol.

Seorang BP pun yang merupakan jumper terbaik di timnas terlihat begitu sia-sia dengan kebiasaan para pemain yang hanya menendang bola saja.

Lalu mental bertanding sama sekali jeblok. Tradisi maut tuan rumah harus menang benar-benar menumpulkan semangat juang pemain. Buat apa main bagus kalau bisa menang saat jadi tuan rumah? Kalau kalah saat bertandang pun, mereka seolah paham tradisi kemenangan tuan rumah itu dan memakluminya. Alhasil ketika berlaga melawan negara lain di luar kandang GBK, timnas seperti ikan yang dipaksa keluar dari air, menggelepar tak berdaya di kaki 11 pemain lawan

Lalu skema pembentukan timnas yang menjemukan. Saya tak mengerti mengapa setiap pertandingan timnas terdahulu dari U-23 sampai level senior, selalu saya lihat itu-itu saja pemainnya.
Mereka digadang adalah yg terbaik selama bertahun-tahun terakhir. Namun apa hasilnya?

Kegagalan demi kegagalan diraih pemain yg sama berulang-ulang. Lalu saat semua orang itu tak dapat memperkuat timnas, baru muncul wajah-wajah baru. Sebagian besar malah baru menjalani debut di timnas senior tanpa pengalaman sedikit pun. Yg menyakitkan para pemain debutan ini langsung dicaci maki saat gagal pertama kali. Berbeda dgn pendahulunya yg tetap dipuja walau gagal bertahun-tahun

Kompetisi dalam negeri kita jauh tertinggal. Mau bukti? LCA jawabannya. Begitu babak belurnya wakil-wakil ISL di ajang tsb. Persipura dan Sriwijaya FC yang katanya adalah tim terbaik dan untouchable di level ISL, benar-benar tak berdaya menghadapi kekuatan sepak bola Asia lain. Bahkan prestasi mereka di samakan Arema IPL yg bisa dibilang bukan tim terbaik.

Kemudian, saya paling tidak suka dgn kuota pemain asing. Menurut saya, pemain asing yg ikut meramaikan kompetisi lokal pun tak sebagus yang sebagaimana harusnya. Masih ingat Markus Bent?

Yang digadang pemain dari EPL itu pun tak kelihatan prestasinya. Gonzalez, Beto, Robertino, Hilton, Souza, saya rasa masih bisa dibandingkan pemain lokal yg ada. Lain kali saya akan bahas perbandingannya. Ironisnya gaji mereka berkali kali lipat di atas pemain lokal yg sama sentralnya dalam klub.

Mirisnya, klub yang harusnya menjadi arena kompetisi pemain bola pun tak seprofesional yang digembar-gemborkan. Bukti tunggakan gaji, kesulitan sponsor, bahkan kematian pemain asing dan pelatih asing seakan menjadi tamparan keras bagi insan sepakbola dalam negeri

Entah sampai kapan timnas kita akan berjaya.
Maret mungkin adalah waktu yg tepat untuk memulai.

Apakah sanksi FIFA akan meruntuhkan kepengurusan saat ini dan diganti oleh yg lebih baik?

Ataukah pembelaan FIFA kepada PSSI akan kembali menimbulkan pemberontak2 baru dgn wajah lama?

Kita bisa membenci pengurus PSSI, namun apakah kita pantas membenci timnas yg gagal karena proses panjang puluhan tahun itu? Apakah kita diam saja melihat kemandekan ini? Sedangkan negara lain berlomba meningkatkan prestasi mereka.

Satu yg saya yakini, jika terus seperti ini, jangan harap Indonesia bisa mengangkat satupun Piala.

Semoga nanti awan cerah bersinar di timur tengah sana saat timnas melawan Irak..

Curahan hati pecinta timnas yang lebih baik

:-)

http://m.kompasiana.com/post/bola/2013/02/06/bukti-bahwa-buruknya-keadaan-sepak-bola-di-indonesia/

Bukti Bahwa Buruknya Keadaan Sepak Bola di Indonesia

Oleh: Yosefeven Andrias | 06 February 2013 | 15:03 WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 2