Polly po-cket
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Tags: Artis, Berita, Hiburan

Dunia Hiburan Makin Komersil, Harus Semakin Intropeksi

Indikasinya adalah panggung showbiz Indonesia dinilai semakin komersil. Tapi bukankah itu bagus karena artinya dunia yang menjadi rumah artis Indonesia ini semakin menjanjikan, penuh daya tarik, gemerlap dan ramai ?. Memang iya, setidaknya itu memperkaya hiburan bagi kita. Tapi sesungguhnya lebih banyak pemerhati yang menilai fenomena panggung hiburan tanah air yang semakin komersil sebagai hal yang penuh ancaman. Ancaman bagi dunia hiburan itu sendiri, ancaman bagi pelaku panggung dan paling dikhawatirkan diam-diam merugikan masyarakat penikmat hiburan sebagai konsumen.

Panggung hiburan Indonesia yang terlalu komersil pada akhirnya menurunkan kualitas karya yang ditampilkan. Sebagian dari kita mungkin masih ingat saat banyak pangamat mengingatkan bahwa Ring Back Tone (RBT) hanya akan menghadirkan masalah pada kualitas musik dan musisi Indonesia. Tapi apa yang terjadi ?. Industri hiburan Indonesia  justru menyembah RBT. Siapa yang tak mau mendapatkan banyak uang hanya dengan membuat lagu seadanya asalkan ada bagian yang bagus selama 20 detik ?. Saat itu para pelaku industri musik terbelah.  Sebagian mendewakan RBT karena faktor keuntungan. Sebagian lagi menganggap RBT hanya mendorong pragmatisme dalam bermusik.

Lalu apa yang terjadi kemudian ?. Kekhawatiran pengamat terbukti benar. Panggung musik yang semakin komersil hanya memunculkan para panyanyi mentah dan grup band prematur spesialis RBT. Para follower bermunculan membuat panggung makin menjemukan. Yang terjadi berikutnya ?. Lihat sendiri apa yang terjadi saat ini pada para artis spesialis RBT itu. Industri RBT runtuh, para jagoan RBT pun kebingungan. Sebagian frustasi, sebagian lain bahkan undur diri terlalu dini, usia mereka pendek sependek potongan lagu RBT.

Kini peringatan dan keprihatinan serupa muncul kembali. Para pemerhati yang peduli dengan kualitas dan masa depan showbiz Indonesia kembali mengkritisi panggung yang semakin komersil itu. Atas nama kreativitas, panggung hiburan Indonesia memang telah dipenuhi para follower yang tampil sebagai penyanyi padahal mereka lebih cocok menjadi penari. Mereka mungkin memang kreatif,  kerja keras mereka juga harus diapresiasi, tapi sebenarnya mereka dilahirkan sekaligus dieksploitasi oleh panggung komersil yang mengutamakan keuntungan bukan berkesenian. Para boyband & girlband adalah contoh produk yang dihasilkan oleh panggung Indonesia yang semakin komersil tapi miskin kualitas.

Tapi industri hiburan Indonesia yang semakin komersil itu terus melenggang percaya diri meski dikritik oleh penontonnya sendiri. Panggung komersil yang diperbudak rating hanya menghasilkan sajian-sajian sinetron yang mengundang sindiran miring, hanya memunculkan panggung-panggung komedi yang memforsir tawa tapi tak lucu sama sekali. Panggung hiburan Indonesia yang semakin komersil telah menggeser semangat berkesenian menjadi ambisi menambang keuntungan.

Tertangkapnya Raffi menjadi bukti terkini bahwa panggung yang komersil pada masanya akan mengancam dan akhirnya memakan korban pelakunya sendiri. Ketika Raffi dan sejumlah temannya tertangkap banyak yang merujuk jawaban bahwa “siapa saja bisa mengalami musibah”. “Siapapun orangnya bisa terjebak narkoba”. Banyak yang mencari jawaban sebatas pelarian bahwa “dunia hiburan memang sudah sejak dulu akrab dengan narkoba”. Tapi mereka lupa untuk menarik kesimpulan.

Dunia hiburan Indonesia pun berontak. Panggung showbiz tak ingin disalahkan dan diidentikan dengan narkoba. Memang benar musibah dan jebakan narkoba bisa dialami siapa saja. Benar bahwa tak peduli artis atau orang biasa, selagi tembok ketahanan pribadinya terjaga maka narkoba takkan mempan menggoda.

Tapi di era saat ini, rasanya kita perlu mempertimbangkan untuk menarik kesimpulan ini. Kesimpulan yang selama ini terlupakan. Terjebaknya banyak pelaku panggung hiburan dalam jeratan narkoba akhir-akhir ini, bukan saatnya lagi dijawab dengan  : “memang sudah sejak lama dunia hiburan lekat dengan narkotika, dan itu bisa terjadi pada siapa saja”. Memang benar demikian. Tapi di era kini sesungguhnya ada jawaban yang paling nyata untuk itu. Bahwa banyaknya artis yang terjebak ke dalam lingkaran hitam narkoba dikarenakan industri hiburan Indonesia telah berubah menjadi sangat komersil.

Industri dan panggung hiburan yang komersil diam-diam telah menggeser makna berkesenian yang seharusnya dilakukan dengan perasaan lepas, bebas dan nyaman berubah menjadi penuh tuntutan. Persaingan tentu akan selalu ada, tapi iklim industri hiburan Indonesia yang semakin komersil saat ini bukan hanya menghadirkan kompetisi tapi tekanan yang melebihi batas.

Para artis seperti Raffi Ahmad dan yang lainnya mungkin tidak sadar atau sebenarnya tahu jika panggung yang mereka gantungi sebenarnya telah memakan mereka. Panggung yang komersil menuntut mereka untuk selalu tersenyum di depan layar kaca, menyuruh mereka untuk selalu tampil dalam top form nya. Padahal semua tahu, tubuh manusia sebenarnya tak akan bisa bertahan dalam rentang waktu 12 jam dengan performa yang stabil. Tapi apa daya, panggung yang komersil akhirnya membuat para pelakunya tampil “ngoyo”. Mereka tak bisa menolak, panggung itu sudah jadi hidupnya, sayangnya panggung itu pula yang memakan sebagian kehidupan mereka. Mereka bekerja ngoyo selama 18 jam, bahkan 20 jam. Tak mungkin ada raga yang bisa bertahan selama itu. Mereka yang berfikir bijak memilih untuk mengurangi atau bahkan mengalah pada panggung hiburan, tapi mereka yang tak ingin namanya tergusur dari panggung tak punya pilihan.  Akhirnya mereka pun mencari sesuatu yang bisa menjadi doping bagi tubuhnya. Sayangnya doping itu sering berupa narkoba.

Benar bahwa narkoba bisa menjerat siapa saja. Tapi saat ini, panggung hiburan Indonesia perlu instropeksi diri karena tak lagi bisa menyalahkan artisnya apalagi mengutuk narkoba. Nyatanya panggung hiburan Indonesia yang semakin komersil telah memakan korban. Korban yang selama ini justru mengabdi pada panggung hiburan itu sendiri.
Industri hiburan negeri mulai membuat pelaku panggung seperti robot yang dieksploitasi atas nama kreativitas dan totalitas. Panggung telah mengeskploitasi bakat mereka hingga para pelakunya lupa makna berkesenian yang membahagiakan. Panggung yang semakin komersil ini telah menghadirkan banyak aktor yang berpura-pura. Pura-pura menyanyi padahal diam, pura-pura tersenyum dan bahagia padahal raganya kepayahan dan pura-pura berkesenian padahal mengejar keuntungan.

Panggung hiburan Indonesia perlu berkaca dan menata dirinya lagi sebagai panggung kesenian, bukan panggung penuh tekanan demi keuntungan. Panggung hiburan Indonesia perlu diisi oleh karya-karya yang berkualitas dan menginspirasi dengan orang-orang yang berkualitas juga. Semoga panggung hiburan Indonesia yang semakin komersil ini bisa introspeksi agar menjadi lebih manusiawi.

http://m.kompasiana.com/post/televisi/2013/02/06/makin-komersil-industri-hiburan-indonesia-perlu-intrspeksi/

Makin Komersil, Industri Hiburan Indonesia Perlu Introspeksi

Oleh: Hendra Wardhana | 06 February 2013 | 06:22 WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 5