Polaroid
HomeBlog Okta AdityaAbout me

France

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Kabar Solo Setelah Ditinggal Jokowi

Lama tak terdengar kabar Solo setelah akhirnya Walikotanya menjadi Gubernur Jakarta. Dulu ketika masih ramai-ramainya Pilkada DKI, Solo dan seluruh isinya ikutan diobok-obok oleh banyak pihak untuk menjatuhkan atau untuk mengangkat citra Pak Jokowi. Lantas sekarang bagaimana kabarnya? Seperti prediksi banyak pengamat politik bahwa Solo akan semrawut setelah ditinggal Jokowi.

Kebetulan akhir Desember tahun lalu, ada kesempatan untuk mampir ke Balaikota Surakarta. Ada urusan yang mengharuskan saya untuk mengajukan ijin ke Pemerintah Kota Surakarta. Mendengar cerita beberapa teman bahwa setelah ditinggal Jokowi, biokrasi di Solo tidak seperti dulu lagi, saya mulai khawatir. Tapi mau tidak mau saya harus datang ke Balaikota Solo.

Saya coba langsung menuju ke Balaikota dan menuju ke tempat perijinan. Di dalam kantor saya menemui petugas yang pada waktu itu bapak-bapak dan seorang ibu. Mereka mempersilahkan saya duduk kemudian melihat berkas-berkas saya.

Ketika mereka memeriksa berkas-berkas saya, saya tiba-tiba tertarik dengan pakaian tradisional yang mereka gunakan. Memang, sejak 9 Februari 2012, setiap hari Kamis, pegawai PNS di lingkungan Kotamadya Surakarta harus menggunakan pakaian adat jawa untuk melestarikan pakaian Jawa (Sumber di sini). Bagi pegawai PNS perempuan menggunakan kebaya putih, sedangkan PNS pria menggunakan beskap putih. Pakain itu dipadukan dengan jarit bermotif Parang Sogan.

Bisa membayangkan ke kantor menggunakan jarit? Pasti muncul berbagai pikiran macam-macam di benak kita. Misalnya membayangkan bagaimana repotnya menggunakan jarit padahal kita dituntut bekerja cepat dan mobilitas tinggi.

Begitu saya melihat penampilan pegawai di Pemerintahan Kota Solo, saya langsung menemukan jawabannya bahwa menggunakan kebaya dan jarit tidak mengganggu kinerja mereka. Mengapa? Karena pakaian yang mereka gunakan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aktifitas kerja dan memudahkan mereka untuk bergerak. Bagi yang berkerudung tentu tidak usah khawatir karena tinggal mengenakan kerudung. Kebaya dan jarit termasuk pakaian yang menutup aurat. Sementara bagi yang tidak menggunakan kerudung dan suka menggunakan rok, jarit bisa dibuat model rok yang nyaman dipakai dan memungkinkan bergerak cepat.

Kembali ke masalah perijinan tadi. Di sela-sela mereka memeriksa berkas saya, saya tanya berapa lama prosesnya. Si ibu tadi langsung menjawab, “ditunggu langsung jadi. Terus mbak tinggal meneruskan surat itu ke bagian lain sesuai yang mbak maui”. Ternyata cukup mudah dan cepat.

Di bagian lain juga cukup mudah sehingga hari itu juga semua urusan perijinan langsung selesai. Jadi dugaan teman-teman saya bahwa birokrasi di Pemerintah Solo mulai tidak bagus ternyata tidak terbukti.

Selesai urusan dengan Balaikota, besoknya saya sempatkan jalan-jalan di Solo. Kali ini saya ingin mencoba jalan kaki di City Walk di sepanjang Jl. Slamet Riyadi. Naik Batik Trans Solo dari Kartasura saya berhenti di Stasiun Purwosari. Memang sengaja ingin jalan kaki dari Stasiun Purwosari ke Balaikota di sepanjang pedestrian yang terkenal di Solo itu.

Ternyata banyak sekali yang masih setia berjalan kaki. Pedestriannya memang cukup lebar. Jadi sangat nyaman.

Di sisi yang dekat ke jalan kendaraan bermotor, banyak sekali pohon-pohon besar. Mungkin ini yang diceritakan orang di Balaikota. Di Solo tidak boleh menebang pohon-pohon tua sembarangan. Harus ijin dari Walikota Solo jika akan menebang pohon tua. Belum tahu sejak kapan aturan itu berlaku, tapi tahun 2010 peraturan ini sudah diterapkan.

Di bawah pohon besar yang rindang, tentu saja tidak terasa panas meski sebenarnya cuaca sangat cerah.

Saya terus berjalan di sepanjang City Walk itu hingga akhirnya sampai di depan Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo. Melihat Loji Gandrung memang menarik. Bangunannya masih khas bangunan Jawa. Menariknya lagi, pagar di depan Loji Gandrung bukan pagar besi seperti pagar rumah-rumah orang kaya. Pagarnya adalah pagar tanaman. Persis seperti rumah di desa-desa yang menggunakan tanaman rambat.

Jauh sebelum saya memperhatikan pagar tanaman rambat di depan Loji Gandrung, memang saya pernah membaca bahwa Jokowi mencanangkan program Eco Cultural City. Salah satu programnya adalah mengharuskan bangunan menggunakan pagar tanaman rambat daripada pagar besi atau tembok. Beberapa yang menolak, mengkhawatirkan masalah keamanan. Tapi Jokowi punya argumen untuk menepis anggapan bahwa pagar tanaman tidak lebih aman. Menurut beliau:
“Kalau orang mau maling, walaupun tembok tinggi tetap saja dinaiki” (Sumber: Majalah JogloSemar)

Ya benar saja. Semua itu didasari dari niat. Jika memang berniat mencuri, setebal apapun tembok yang dibuat akan bisa dibobol pencuri.

Setelah sebentar mengamati Loji Gandrung, saya melanjutkan perjalanan ke timur. Kondisinya masih tetap seperti ketika Jokowi masih menjadi Walikota Solo.

Sesekali saya melihat beberapa turis asing lewat di jalan itu atau di seberang jalan. Ya, memang di Solo banyak sekali warga negara asing yang berkunjung. Ada yang memang bekerja dan mengajar di perguruan tinggi. Ada pula yang sedang belajar budaya Jawa. Saya jadi teringat pemilik kursus bahasa Inggris di Solo yang masih tinggal di Solo. Meski mereka berkebangsaan Australia, anak-anaknya mahir berbahasa Jawa Solo. Ketika saya tanya, mereka memang mengenalkan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, selain bahasa ibu mereka, bahasa Inggris.

Kembali ke Solo City Walk lagi. Saya terus berjalan hingga akhirnya saya sampai di Gladak. Lumayan cukup panjang perjalanannya dan saya tidak menghitung berapa lama perjalanan saya karena tidak membawa HP.

Gladak ini pusat kota yang dekat dengan  Balaikota. Di sektar situ juga ada pusat belanja batik dan beberapa kantor yang masih terjaga gaya arsitektur peninggalan Belanda.

Nampak dari kejauhan di perempatan Gladak sedikit semrawut. Saya membatin, jangan-jangan memang kondisi Solo makin semrawut setelah ditinggal Jokowi. Tapi ternyata memang ada pembangunan di sekitar patung Slamet Riyadi sehingga ada bagian jalan yang harus ditutup. Di sepanjang jalan menuju Balaikota, Jl. Jendral Sudirman juga nampak para pekerja membenahi trotoar. Di depan Pusat Grosir Solo, di Galabo, pusat jajanan malam di Solo juga sedang dibenahi.
Tidak hanya di sekitar bunderan patung Slamet Riyadi, di bunderan Pasar Gede juga sedang dibenahi. Bahkan di sepanjang Kali Pepe, sungai di dekat Pasar Gede di belakang kantor Telkom, sudah dibangun pedestrian yang sangat bagus. Rupanya waktu itu Solo sedang melakukan pembenahan besar-besaran.

Jauh hari sebelumnya, ketika Jokowi sedang menjabat sebagai Walikota Solo, kawasan Ngarsopuro juga sudah ditata. Dari Jl Slamet Riyadi nampak besar gapura Ngarsopura yang terbuat dari besi dan ditumbuhi tanaman liar. Sementara di sepanjang Ngarsopuro, pedestrian ditata indah dengan menunjukkan ciri khas budaya Jawanya.
Ketika saya datang ke sana, kondisinya masih cukup bagus. Beberapa patung khas Jawa masih nampak dan tempat duduk di sepanjang pedestrian juga masih bagus.

Sepertinya pemerintah Solo masih terus berbenah untuk mengejar ke-khasannya sebagai kota kebudayaan Jawa. Pembangunan terus dilakukan di hampir setiap sudut kota meski walikotanya bukan Jokowi lagi. Tentu saja ini untuk mensinkronkan Solo dengan slogannya yaitu Solo the Spirit of Java.

Tapi sayang, di tengah-tengah kota Solo ada bangunan modern yang dikenal dengan nama Solo Paragon. Bangunan modern ini adalah hotel, apartemen sekaligus mall. Memang sedikit mengganggu. Di saat Solo sedang menonjolkan karakter Jawanya, tiba-tiba ada bangunan modern yang megah ditengah-tengah kota. Mungkin karena itulah kemudian di Solo Paragon Mall terdapat ornamen berbentuk wayang dan juga menggunakan Huruf Jawa. Ini untuk mensinkronkan dengan karakter Jawa yang sudah melekat di Solo.

Bangunan modern masih bisa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga berkarakter Jawa. Namun, bisa saja suatu saat nanti, dengan semakin gencarnya budaya luar yang datang, generasi muda Solo akan tidak menyukai budaya nenek moyangnya itu.

Ketika saya kembali ke Balaikota, saya menyaksikan panggung bertuliskan KREASSO, Kreatif Anak Sekolah Solo. Rupanya Pemerintah Kota Surakarta melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (Desdikpora) juga ‘menggarap’ anak muda agar mencintai budaya Jawa dengan menyediakan ajang kreasi anak sekolah di seluruh Solo menjelang waktu liburan. Ini adalah suatu acara unjuk kebolehan dalam seni. Sebagai wujud kepedulian pemerintah terhadap kegiatan positif anak-anak sekolah dan sekaligus melestarikan budaya Jawa.

Di saat generasi muda suka dengan kesenian modern, ternyata masih banyak anak-anak remaja yang mahir menari tarian Jawa. Bahkan ada di antara mereka yang unjuk kebolehan itu masih anak-anak. Tidak sedikit di antara penari yang tampil seperti penari sudah profesional. Seperti Sendra Tari yang ditampilkan oleh salah satu SMP di Solo. Pemeran Cakil sangat lihai dan lincah menari. Bahkan dalam dialog yang menggunaan bahasa Jawa halus juga bisa melucu seolah-olah bukan karena latihan, tapi melucu spontan.
Penonton acara ini juga banyak. Sebagian besar mereka adalah anak-anak sekolah.

Memberi wadah kepada siswa sekolah untuk unjuk kebolehan dalam bidang seni, terutama tari tradisional ini sangat bermanfaat. Terutama untuk memberi wadah agar anak muda tidak terjebak kepada kegiatan yang negatif.
Kegiatan kesenian di Solo memang sudah ada sejak lama karena memang Solo adalah salah satu pusat kebudayaan Jawa dimana banyak seniman yang lahir di kota ini. Tapi kemudian sempat berhenti karena kurang terurus. Baru setelah Jokowi jadi walikota, kesenian tradisional di Solo mulai nampak geliatnya.

Memang Jokowi sangat berjasa mengembalikan roh Jawa di Solo dengan berbagai kebijakannya untuk melestarikan budaya Jawa. Tapi beliau tidak bekerja sendiri. Selama tujuh tahun Jokowi bekerja bersama Hady Rudyatmo dan beribu-ribu pegawai PNS di Pemerintah Solo. Waktu selama itu sudah cukup untuk menciptakan budaya good governance “ala Jokowi” di Pemerintahan Solo. Sehingga sampai sekarang, Pemerinta Kota Solo masih terus berjalan dengan baik dan masih terus membangun dan mensinkronkan diri dengan slogan The Spirit of Java-nya.

Jadi, apakah Solo akan runtuh setelah ditinggal Jokowi? Semua sudah saya ceritakan di atas.

http://m.kompasiana.com/post/regional/2013/02/06/setelah-ditinggal-jokowi-bagaimana-kabar-solo/

Setelah Ditinggal Jokowi, Bagaimana Kabar Solo?

Oleh: Septin Puji Astuti | 06 February 2013 | 05:19 WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 2