Teya Salat
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Hukum Relatif Ekonomi

Alam semesta terdiri dari harmoni angka-angka –
kata Phitagoras.

Kehidupan kita sering dikelabui oleh halusinasi
angka-angka –kata saya.

Andaikan anda sekaya Bill Gates atau Bill Joy. Atau
setidak-tidaknya sekelas keluarga Bakrie. Mana
yang lebih nyaman, hidup ditengah-tengah
tetangga yang miskin atau di sekitar tetangga
yang cukup kaya tetapi masih jauh lebih miskin
dibanding anda? Tanyalah pada Bill Gates atau
keluarga Bakrie, jawabannya pasti opsi yang
kedua.

Nilai kekayaan anda disebut angka absolut —
misalkan saja seratus juta, semilyar, atau malah
seratus milyar. Tetapi nilai kenyamanan anda
adalah angka relatif. Sebab, anda tidak bisa
menilai tingkat kenyamanan dengan angka 1000,
100, atau 10 tanpa mempertimbangkan variabel-
variabel lainnya, misalnya kekayaan tetangga
anda. Pada opsi pertama di atas, saya jamin anda
tidak akan merasa leluasa membangun rumah
yang super megah diantara tetangga-tetangga
anda yang berumah batako. Dan seandainya anda
tega juga melakukannya, anda akan terpaksa
membangun pagar setinggi dua atau tiga meter di
sekeliling rumah. Plus pecahan kaca yang ditebar
di atas tembok pagar :). Sebenarnya bukan karena
para tetangga suka mencuri, tetapi karena anda
sendiri terjangkiti paranoia: bagaimana kalau
anggrek bulan di halaman depan yang berharga
sepuluh juta itu diambil orang? Situasinya akan
berbeda jika tetangga-tetangga anda lumayan
kaya. Anda justru lebih antusias memajang Mercy,
X5, atau Bentley di garasi, bahkan kalau perlu
tanpa dipagari. Sebab, anda merasa yakin bahwa
tetangga-tetangga anda pasti juga sudah memiliki
mobil pribadi, entah avanza, innova, bahkan
mungkin BMW seri tiga keluaran lama. Pada opsi
pertama, kekayaan membuat anda merasa
terancam. Sedangkan pada opsi kedua, kekayaan
membuat anda merasa sebagai pemenang. Lalu,
mengapa nilai kekayaan yang sama bisa
menciptakan situasi relatif yang berbeda?

Sederhana saja, karena angka absolut mengelabui
anda.

Malcomb Gladwell menceritakan kisah lain, Enron.
Ini perusahaan energi Amerika Serikat yang
dulunya mengagumkan — setidaknya menurut
majalah Fortune, yang berperingkat tujuh terbesar
di dunia. Secara berkala, tentu saja, Enron selalu
mengeluarkan laporan keuangan. Angka-angkanya
meyakinkan. Para investor menyukai sahamnya.
Tak terkecuali para analis bursa. Lalu sampailah
pada tragedi itu, ketika akhir tahun 2001 Enron
tiba-tiba mengajukan pailit, alias bangkrut. CEO-
nya bahkan lalu divonis pidana 24 tahun, di
penjara kelas satu, disatukan dengan bandit-
bandit kelas kakap. Tuduhannya mengerikan, sang
CEO telah mengelabui para investor dengan
laporan keuangan yang menyesatkan. Tetapi
bukankah laporan keuangan dapat diakses secara
terbuka dan dianalisa oleh siapa saja? Dan
mengapa selama bertahun-tahun tak satupun
pihak berwenang di Amerika yang menengarai
adanya pelanggaran?

Sebab, Enron memang tak melanggar hukum.
Enron hanya licik, tetapi tidak kriminal. Ibaratnya
anda seorang pedagang jeruk yang menata
dagangan anda sedemikian rupa sehingga tampak
tidak ada jeruk yang buruk. Apakah menata jeruk
seperti itu melanggar hukum? Tentu saja tidak.
Dan mengapa pula selama bertahun-tahun para
investor atau para analis, yang biasanya bermata
jeli setajam elang, tak ada yang mencurigai
keanehan laporan keuangan itu? Ya, memang sulit
mencurigai sebuah perusahaan dengan citra
hebat dan laporan keuangan mengkilap. Hampir
muskil. Dimana-mana juga yang dicurigai adalah
yang berpenampilan kumuh, atau yang tak stabil.

Bukan yang necis, dendi, dan mapan. Angka-
angka telah mengelabui mereka semua! Eh,
tunggu dulu, tidak semuanya. Seorang wartawan
bernama Jonathan Weil pada tahun 2000, atau
setahun sebelum kejatuhan Enron, telah menulis
keanehan laporan keuangan perusahaan itu di
Wall Street journal. Bahkan tahun 1998, atau tiga
tahun sebelumnya, enam orang mahasiswa paska
sarjana telah membuat penelitian yang
kesimpulannya adalah, “Jual saham Enron
segera!”. Hasil penelitiannya dipajang di situs
Cornel University. Masalahnya, adakah orang yang
mau mendengarkan celoteh seorang wartawan
bisnis atau penelitian “ecek-ecek” enam orang
mahasiswa paska sarjana? Tidak ada!

Jika anda termasuk seorang coach potatoe —
orang yang suka mematung di depan tivi berjam-
jam lamanya, di atas sofa, sambil makan kentang
goreng atau berondong jagung — sudah
semestinya anda merasa jengah dengan angka-
angka. Di tivi anda akan dibombardir oleh
pameran angka yang hampir semuanya
menakjubkan. Entah itu pidato presiden, menteri,
petinggi Polri, atau anggota DPR. Misalnya,
presiden mempresentasikan keberhasilan
kepemimpinannya dengan memaparkan angka
pertumbuhan, jumlah lapangan kerja yang
berhasil diciptakan, menurunnya jumlah rakyat
miskin, atau anggaran pendidikan yang meningkat
hingga 200 trilyun. Atau petinggi Polri — ketika
citranya sedang diluluhlantakkan — memaparkan
prestasi institusinya dengan angka-angka:
terbongkarnya sekian ratus kasus terorisme,
sekian ribu kasus narkotika, sekian ribu kasus
korupsi. Lalu belum lama ini, humas Pertamina
melaporkan tentang disantuninya “sekian” korban
ledakan gas elpiji dengan uang senilai sekian puluh
juta. Kalau anda belum juga jengah dengan angka-
angka itu, cobalah sekali-kali bersafari ke kantor-
kantor pemerintahan kota atau kabupaten. Anda
akan menemukan eforia angka-angka yang
menurut saya terlalu glamor: angka partisipasi ini,
indeks pembangunan itu, indeks ini, indeks itu.

Tetapi mengapa gemerlap angka-angka itu justru
membuat anda merasa tak nyaman? Sebab, mata
anda melihat kenyataan yang tak sesuai.

Lalu apakah presiden, menteri, Polri, DPR atau
Pertamina berbohong? Jangan buru-buru
menuduh, mereka sama sekali tak berbohong.
Mereka memang menyampaikan fakta, atau
tepatnya angka, yang benar. Yang menjadi
masalah, presiden, menteri, dan lainnya itu tak
pernah menyampaikan angka lain sebagai
pembanding. Kita pun tak mudah mendapatkan
angka pembanding itu dari sumber lain. Misalnya,
ketika presiden menyebutkan angka pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, dia tak menyertainya dengan
informasi tentang bagimana kue ekonomi
didistribusikan. Atau ketika presiden
menyampaikan tentang meningkatnya penciptaan
lapangan kerja, dia tak menyertainya dengan info
tentang besarnya laju pengangguran. Ketika
dikatakan jumlah rakyat miskin menurun, kita tak
pernah diberitahu seberapa layak standar yang
dipakai untuk mengukur seseorang miskin atau
tidak. Ketika Polri menyebut keberhasilannya
menyelesaikan sekian ribu kasus, kita tak pernah
diberitahu berapa banyak kasus yang tak berhasil.

Atau lebih jauh lagi, seberapa besar sebenarnya
ancaman kejahatan terhadap hidup kita. Ketika
Humas Pertamina memaparkan jumlah santunan,
kita tak pernah diberitahu berapa korban yang tak
disantuni. Lebih jauh lagi, seberapa besar potensi
calon korban selanjutnya, atau seberapa banyak
tabung gas yang mungkin akan meledak. Kita tak
pernah diberikan angka pembanding. Seperti
halnya pembeli jeruk, kita hanya diperlihatkan
jeruk yang baik diantara tumpukan jeruk yang
mungkin saja buruk.

Hukum relatif adalah kaidah memaknai sebuah
angka dengan membandingkannya dengan angka
yang lain. Dasarnya sederhana saja: sedikit sekali
angka absolut yang memiliki arti dalam kehidupan
kita. Ketika anda menyebut gaji anda 100 juta, itu
tak akan bermakna apa-apa. Angka itu baru
bermakna ketika anda membandingkannya
dengan indeks daya beli, atau dengan angka
standar hidup layak, atau bahkan dengan harga
sepotong kol di pasar. Semakin banyak angka
pembanding lain — atau semakin banyak variabel
yang diikutsertakan dalam pemaknaan atas
sebuah angka, maka akan semakin luas dimensi
pemaknaan itu. Tanpa upaya seperti itu, sebuah
angka bisa jadi sangat menyesatkan. Anda tak
percaya? Coba simak ini: menurut income per
kapita, pendapatan saya dan Aburizal Bakrie
adalah sama, sekitar 24 juta setahun, atau sekitar
dua juta per bulan. Nah!

Makanya, anda sebaiknya menambah sedikit doa,

“Ya Allah, jauhkanlah hamba dari godaan angka
dan halusinasinya”.[]

Agus Kurniawan

http://www.goeska.com/2012/01/hukum-
relatif.html

http://m.kompasiana.com/post/sosbud/2013/02/05/hukum-relatif-ketika-gaji-100-juta-tak-bermakna/

Hukum Relatif: Ketika Gaji 100 Juta Tak
Bermakna

Oleh: Agus Kurniawan | 05 February 2013 | 05:21
WIB

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 2