Snack's 1967
HomeBlog Okta AdityaAbout me

United States

Blog Nya Okta Aditya

Blog Aktual Berisi Berbagai Opini, Gagasan, Ide dan Ulasan tentang isu-isu yang lagi hangat dan berkembang. Blog kumpulan berbagai berita aktual dari berbagai kalangan. Dan juga Tulisan-tulisan yang sangat menarik dan bermanfaat dari hasil pengalaman seseorang yang saya share disini.

Blog Terpercaya Rekomendasi Google.

Selamat menikmati, semoga anda senang.


K O N T E N B L O G :


Klik tautan ini untuk melihat konten blog secara lengkap.

Bantahan saya untuk Firman Utina ( menolak bergabung Timnas )

Kemerdekaan akan selalu menyisakan persoalan sebab awalan ke- dan akhiran -an menunjukan sebuah kondisi sekaligus proses. Setelah merdeka Amerika harus membebaskan komunitas negro dari hegemoni kulit putih dalam praktek perbudakan yang tidak manusiawi.

Para budak negro ikut menentukan HAK atas kebebasan menentukan nasib sendiri dengan berdiri dibelakang Abraham Lincoln yang anti perbudakan. Saat Abraham Lincoln mencanangkan penghapusan perbudakan, tidak seorang budak pun berdiri di mimbar dan berteriak lantang ,’saya bahagia menjadi budak karena dapat tidur dan makan teratur dan kami menentang Anda wahai Lincoln yang terhormat’. Mereka melawan tuan-tuan tanah di area pertanian dan berkata ‘kami memiliki hak untuk menentukan nasib sendiri di Negara yang dibangun dalam pondasi demokrasi’.

Lincoln dan Soekarno merupakan kesamaan visi meski mereka hidup di jaman berbeda. Bila Abraham memperjuangkan individu-individu yang terhegemoni manusia lain, maka Soekarno memperjuangan sebuah kebebasan kolektif atas pemasungan HAK oleh bangsa lain. Baik Lincoln
dan Soekarno tidak mensyaratkan kesempurnaan dan kesucian para individu itu untuk menjadi
manusia bebas. Bebas memilih sikap untuk menjadi Amerika dan menjadi Indonesia.

Membaca. argumentasi Firman Utina terhadap panggilan membela tim sepakbola yang mewakili INDONESIA bahwa ia terikat kontrak dan harus menghormatinya karena dibayar mahal, sungguh
ironis. Saat 200an tahun lalu Lincoln membebaskan para budak, di abad 21 ini masih ada orang bangga menjadi ‘budak’ dalam bentuk lain. Di jaman instant noodle memang semua seperti bergeser dan hedonistic. Namun menterjemahkan nasionalisme dengan ‘pernah membela Indonesia 9 tahun’ sungguh pemahaman yang narsistic. Orang tidak akan meludahi cermin di depannya. Menjadi Indonesia semestinya tidak mengenal ‘pernah’ selama kita masih berpaspor dengan lambang Garuda.

Kebebasan yang diinginkan Soekarno dan Lincoln bukanlah kebebasan untuk menolak menjadi bagian Indonesia dengan membela Negara ketika dibutuhkan. Nasionalisme bukanlah seperti Bambang Pamungkas jabarkan sebab nasionalisme tidak memerlukan kesempurnaan tindakan dan kesucian. Nasionalisme bukanlah ukuran moralitas yang suci: tidak pernah membeli DVD bajakan, tidak pernah melanggar lalu lintas atau nyontek ketika ulangan. Nasionalisme adalah sebuah kecintaan dan kesadaran berbangsa seperti penjabaran Benedic Anderson dalam ‘The Spectre of Comparisons’.

Seorang narapidana tetap memiliki hak untuk membela negaranya bila dibutuhkan. Merdeka – baik secara individu atau kolektif – itu seperti manusia dewasa yang sudah menikah: tidak bisa lagi membebankan jalur kehidupannya di pundak orang lain.

Kemerdekaan tidak pernah menjanjikan kemudahan. Manusia merdeka karena ia berani ambil resiko dan tanggung jawab. Ia pribadi yang tidak memerlukan warisan untuk mempersunting tetangga. Mereka yang takut merdeka: jadilah patung di sudut kota.

Back to posts
This post has no comments - be the first one!

UNDER MAINTENANCE
Follow @AdityaEmail_ 2